SEKS (jenis kelamin)

adalah ciri-ciri biologis alamiah yang membedakan perempuan dan laki-laki yang tak dapat berubah sepanjang hidup mereka, kecuali mereka yang memiliki kelainan hormonal. Bagi perempuan, ciri seks primer mereka memberikan kemampuan untuk hamil, melahirkan, dan menyusui, sedangkan ciri seks primer laki-laki memberikan kemampuan untuk menghamili. Ciri seks sekunder laki-laki diperlihatkan oleh nada suara yang rendah, sedangkan ciri seks sekunder pada perempuan diperlihatkan oleh nada suara yang lebih tinggi.

 

SOSIALISASI GENDER

Suatu proses belajar menjadi perempuan dan menjadi laki-laki dalam pengertian: apa saja peran utama perempuan dan peran utama laki-laki di dalam keluarga dan di dalam komunitas; bagaimana perempuan dan laki-laki harus berperilaku. Proses ini berawal dari sejak lahir dilakukan oleh orangtua, dilanjutkan di sekolah oleh guru dan buku-buku pelajaran, di tempat kerja dan oleh mass media.

 

STANDAR GANDA

Istilah yang mendiskripsikan bagaimana masyarakat menggunakan standar yang berbeda untuk memberikan penilaian atas hal-hal yang sama yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Contohnya, perempuan yang tidak menikah yang tidak perawan lagi adalah perempuan yang tercemar, tetapi laki-laki yang tidak menikah yang memiliki pengalaman yang sama (juga tidak perjaka lagi) dianggap alami dan normal: pekerja seks dipandang tidak bermoral, namun hal tersebut tidak akan dikenakan pada kaum laki-laki yang menjadi pelanggannya. Eichler menjelaskan bahwa standar ganda ini berakar dalam semua aspek kehidupan: hukum, ekonomi, pendidikan, media, dan keluarga. Untuk menghapus standar ganda berarti harus menciptakan suatu sistem sosial dan nilai-nilai yang lebih adil.

 

STEREOTIP GENDER

Citra baku yang tentang individu atau kelompok yang tidak sesuai dengan kenyataan empirik yang ada. Pemikiran stereotip tentang ciri-ciri laki-laki dan perempuan biasanya dikaitkan dengan peran gender mereka. Citra baku yang ada pada laki-laki adalah kecakapan, keberanian, pantang menangis, agresif, dan sebagainya yang berkaitan dengan peran gender mereka yaitu sebagai pencari nafkah utama dan pemimpin keluarga. Citra baku yang ada pada perempuan adalah memiliki rasa kasih sayang, kemampuan mengasuh, kehangatan, lembut, pemalu, cengeng. Dalam kenyataan empirik, citra tersebut tidak sesuai. Perempuan juga memiliki kecakapan, keberanian, pantang menangis, agresif, dan sebagainya. Sebaliknya laki-laki juga cengeng, lembut, kasih sayang, pemalu, mampu melakukan pengasuhan dan sebagainya.

SUBORDINASI

Istilah ini mengacu kepada peran dan posisi perempuan yang lebih rendah dibandingkan peran dan posisi laki-laki. Subordinasi perempuan berawal dari pembagian kerja berdasarkan gender dan dihubungkan dengan fungsi perempuan sebagai ibu. Kemampuan perempuan ini digunakan sebagai alasan untuk membatasi perannya hanya pada peran domestik dan pemeliharaan anak – jenis pekerjaan yang tidak mendatangkan penghasilan – yang secara berangsur menggiring perempuan sebagai tenaga kerja yang tidak produktif dan tidak menyumbang kepada proses pembangunan.

 

PARTISIPASI

Keterlibatan seseorang atau sekelompok orang di dalam kegiatan termasuk kegiatan-kegiatan pembangunan dapat terjadi pada beberapa tingkatan atau tahapan yang berbeda dalam suatu proyek dengan beragam implikasi bagi yang terlibat. Tingkat partisipasi yang terendah adalah apabila seseorang atau sekelompok orang menjadi peserta pasif dari suatu proyek, tanpa mereka ikut terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi proyek tersebut. Tingkat partisipasi yang lebih tinggi yaitu apabila seseorang atau sekelompok orang melakukan kegiatan yang diperintahkan orang kepadanya, misalnya menyumbangkan tenaganya untuk kegiatan Posyandu. Tingkatan partisipasi yang ketiga adalah apabila seseorang atau sekelompok orang terlibat dalam pengidentifikasian permasalahan dan kebutuhan, membuat pilihan-pilihan bagi penyelesaiannya yang berupa ‘daftar kegiatan yang diinginkan’ tanpa adanya rasa memiliki kegiatan tersebut. Tipe ideal dari partisipasi adalah apabila seseorang atau sekelompok orang berkemampuan mengorganisir dirinya untuk memenuhi kebutuhannya, merencanakan penyelesaian permasalahannya serta bertanggung-jawab dalam tindakan-tindakan yang dilakukannya.

 

PEKERJAAN DOMESTIK

Adalah pekerjaan-pekerjaan rumahtangga yang dilihat sebagai pekerjaan perempuan, dan tidak bernilai ekonomi dan sosial. Dalam konsep pembangunan yang menggunakan perspektif kemitraan gender, kerja domestik seyogyanya menjadi tanggung jawab bersama laki-laki dan perempuan, dan secara ekonomi dan sosial sangat bernilai seperti halnya jenis-jenis kerja yang lainnya

 

PELATIHAN GENDER

Dalam dekade yang lalu sejumlah pendekatan pelatihan yang berbeda telah dikembangkan dan menghasilkan strategi-strategi dan teknik-teknik pelatihan yang berbeda. Dari berbagai pendekatan, tiga pendekatan muncul sebagai pendekatan-pendekatan yang dominan. Pelatihan analisis gender, pertama kali dikembangkan tahun 1980 oleh Chaterine Overholt, Mary Anderson, dan Kathleen Cloud dari Harvard dan karenanya juga disebut “Pendekatan Harvard”. Pendekatan ini merupakan suatu alat diagnosis yang didasarkan pada analisis gender. Ia terdiri dari kerangka kerja analitis rangkap tiga yang secara berurutan mempermasalahkan pembagian kerja antara perempuan dan laki-laki serta perbedaan akses dan penguasaan mereka terhadap sumber-sumber kehidupan. Tujuannya adalah melatih peserta agar mampu menggunakan analisis gender sebagai peralatan dalam tugas mereka. Pendekatan kedua, yang muncul pada akhir tahun 80-an adalah Pelatihan Perencanaan gender yang dikembangkan oleh Caroline Moser di London. Basis dari pendekatan ini adalah perencanaan dan bukan analisis. Tujuan pelatihan adalah memberikan peralatan, tidak hanya untuk analisis suatu situasi yang responsif gender tapi juga terjemahannya ke dalam intervensi khusus yang berupa praktek perencanaan. Dinamika gender adalah yang ketiga, dan merupakan pendekatan pelatihan yang sangat berbeda. Pendekatan ini utamanya datang dari pengalaman pelatihan organisasi masyarakat akar-rumput di negara-negara Dunia Ketiga. Filipina memiliki banyak pengalaman dengan pendekatan ini. Dinamika gender adalah pelatihan penumbuhan kesadaran untuk mengidentifikasikan bias gender di dalam rumah, di tempat kerja dan di dalam masyarakat. Pelatihan dengan pendekatan ini menggunakan beberapa metodologi partisipatori seperti role play, dinamika interpersonal dan teater populer