PARTISIPASI

Keterlibatan seseorang atau sekelompok orang di dalam kegiatan termasuk kegiatan-kegiatan pembangunan dapat terjadi pada beberapa tingkatan atau tahapan yang berbeda dalam suatu proyek dengan beragam implikasi bagi yang terlibat. Tingkat partisipasi yang terendah adalah apabila seseorang atau sekelompok orang menjadi peserta pasif dari suatu proyek, tanpa mereka ikut terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi proyek tersebut. Tingkat partisipasi yang lebih tinggi yaitu apabila seseorang atau sekelompok orang melakukan kegiatan yang diperintahkan orang kepadanya, misalnya menyumbangkan tenaganya untuk kegiatan Posyandu. Tingkatan partisipasi yang ketiga adalah apabila seseorang atau sekelompok orang terlibat dalam pengidentifikasian permasalahan dan kebutuhan, membuat pilihan-pilihan bagi penyelesaiannya yang berupa ‘daftar kegiatan yang diinginkan’ tanpa adanya rasa memiliki kegiatan tersebut. Tipe ideal dari partisipasi adalah apabila seseorang atau sekelompok orang berkemampuan mengorganisir dirinya untuk memenuhi kebutuhannya, merencanakan penyelesaian permasalahannya serta bertanggung-jawab dalam tindakan-tindakan yang dilakukannya.

 

PEKERJAAN DOMESTIK

Adalah pekerjaan-pekerjaan rumahtangga yang dilihat sebagai pekerjaan perempuan, dan tidak bernilai ekonomi dan sosial. Dalam konsep pembangunan yang menggunakan perspektif kemitraan gender, kerja domestik seyogyanya menjadi tanggung jawab bersama laki-laki dan perempuan, dan secara ekonomi dan sosial sangat bernilai seperti halnya jenis-jenis kerja yang lainnya

 

PELATIHAN GENDER

Dalam dekade yang lalu sejumlah pendekatan pelatihan yang berbeda telah dikembangkan dan menghasilkan strategi-strategi dan teknik-teknik pelatihan yang berbeda. Dari berbagai pendekatan, tiga pendekatan muncul sebagai pendekatan-pendekatan yang dominan. Pelatihan analisis gender, pertama kali dikembangkan tahun 1980 oleh Chaterine Overholt, Mary Anderson, dan Kathleen Cloud dari Harvard dan karenanya juga disebut “Pendekatan Harvard”. Pendekatan ini merupakan suatu alat diagnosis yang didasarkan pada analisis gender. Ia terdiri dari kerangka kerja analitis rangkap tiga yang secara berurutan mempermasalahkan pembagian kerja antara perempuan dan laki-laki serta perbedaan akses dan penguasaan mereka terhadap sumber-sumber kehidupan. Tujuannya adalah melatih peserta agar mampu menggunakan analisis gender sebagai peralatan dalam tugas mereka. Pendekatan kedua, yang muncul pada akhir tahun 80-an adalah Pelatihan Perencanaan gender yang dikembangkan oleh Caroline Moser di London. Basis dari pendekatan ini adalah perencanaan dan bukan analisis. Tujuan pelatihan adalah memberikan peralatan, tidak hanya untuk analisis suatu situasi yang responsif gender tapi juga terjemahannya ke dalam intervensi khusus yang berupa praktek perencanaan. Dinamika gender adalah yang ketiga, dan merupakan pendekatan pelatihan yang sangat berbeda. Pendekatan ini utamanya datang dari pengalaman pelatihan organisasi masyarakat akar-rumput di negara-negara Dunia Ketiga. Filipina memiliki banyak pengalaman dengan pendekatan ini. Dinamika gender adalah pelatihan penumbuhan kesadaran untuk mengidentifikasikan bias gender di dalam rumah, di tempat kerja dan di dalam masyarakat. Pelatihan dengan pendekatan ini menggunakan beberapa metodologi partisipatori seperti role play, dinamika interpersonal dan teater populer

 

PELECEHAN SEKSUAL

Perlakuan tak senonoh dari jenis kelamin tertentu terhadap jenis kelamin yang lainnya yang tidak diinginkan. Pelecehan seksual bukanlah isu seksual tetapi merupakan isu relasi kekuasaan dimana yang lebih berkuasa memaksa yang tidak berdaya. Perkosaan merupakan manifestasi pelecehan seksual yang ekstrim. Secara tradisional, selalu laki-laki yang berkuasa atas segalanya termasuk atas kaum perempuan.

 

PEMBAGIAN KERJA YANG BERBASIS GENDER (1)

Mengacu pada perbedaan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh perempuan dan laki-laki baik di dalam komunitas maupun di dalam rumah, sebagai hasil sosialisasi. Faktor-faktor seperti pendidikan, teknologi, perubahan ekonomi dan krisis yang mendadak, seperti perang serta kelaparan, dapat menyebabkan peran dan pembagian kerja yang berbasis gender berubah. Dengan meneliti pembagian kerja yang berbasis gender dapat terlihat dengan jelas bahwa tugas perempuan dan laki-laki saling tergantung, dan akan terlihat pula bahwa pada umumnya perempuan mempunyai beban pekerjaan yang lebih berat, namun tidak diberikan upah kepadanya baik untuk pekerjaan -pekerjaan yang dilakukannya di rumah maupun untuk pekerjaan yang dilakukannya di dalam komunitas.

 

PEMBAGIAN KERJA ATAU PEMBAGIAN PERAN BERDASARKAN GENDER (2)

Adalah kerja atau peran yang diwajibkan oleh masyarakat kepada perempuan dan laki-laki, baik di dalam rumah maupun di dalam komunitas. Di dalam keluarga, perempuan diwajibkan berperan utama mengerjakan tugas-tugas kerumahtanggaan seperti mengurus anak dan suami serta anggota rumah tangga lainnya seperti orangtua yang telah berusia lanjut; memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan sebagainya; mengajarkan anak-anak akan nilai dan norma yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Laki-laki berkewajiban melindungi anggota keluarga dan mencarikan nafkah untuk semua anggota keluarganya. Membahas pembagian kerja atau pembagian peran berdasarkan gender ini seyogyanya dilakukan berdasarkan pengalaman nyata dari masing-masing jenis kelamin. Hasil pembahasan akan memperlihatkan bahwa perempuan mengalami jam kerja yang lebih panjang (Double day) dibandingkan dengan jam kerja yang dimiliki oleh laki-laki

 

PEMBANGUNAN (1)

Secara umum pembangunan dapat didefinisikan ‘suatu perubahan yang direncanakan dan dilaksanakan oleh negara’. Tetapi definisi pembangunan seperti ini sulit digunakan sebagai alat analisis yang baik sebab tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: perubahan apa yang ingin dicapai, siapa yang melaksanakan, atas kemauan siapa, dan untuk kepentingan siapa, dan sebagainya. Selain itu, masyarakat dilihat sebagai suatu kesatuan yang homogen yang memiliki kepentingan yang sama dan perencana serta pelaksana pembangunan (dalam hal ini adalah negara atau pemerintah) juga dilihat sebagai satu kesatuan yang mewakili dan membawa kepentingan masyarakat yang juga dianggap sebagai kesatuan yang homogen.

 

PEMBANGUNAN (2)

Suatu pandangan alternatif mengenai pembangunan melihat pembangunan sebagai upaya untuk memperbaiki kesejahteraan dan kualitas kehidupan manusia daripada upaya yang mentargetkan pertumbuhan ekonomi. Jadi pembangunan merupakan upaya multidimensional yang mencakup perbaikan politik, budaya, sosial dan ekonomi, Ester Boserup menemukan bahwa kebanyakan status ekonomi kaum perempuan di negara-negara dunia ketiga dan negara-negara dunia pertama memburuk di semua bidang kehidupan: ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan , dan hukum (lihat Boserup 1970). Menurutnya, modernisasi telah menyebabkan Pembagian kerja yang berbasis gender atau “dualisme” yang menempatkan kaum perempuan bekerja di pertanian subsisten atau bahkan di tugas-tugas kerumahtanggaan.