PERALATAN-PERALATAN PERENCANAAN GENDER

Methodologi perencanaan gender, dikembangkan oleh Caroline Moser, menggunakan beberapa peralatan untuk pendiagnosaan dan perencanaan yang responsif gender: Identifikasi peran-peran produktif, reproduktif atau peran pengelolaan komunitas dan peran politik komunitas perempuan dan laki-laki (lihat peran gender). Asesmen kebutuhan-kebutuhan praktis dan strategis gender yang berbeda (lihat kebutuhan – kebutuhan gender). Data yang terpilah menurut jenis kelamin di tingkat rumahtangga untuk menjamin identifikasi penguasaan atas kekuasaan dan sumber-sumber kehidupan di dalam rumahtangga. Matriks kebijakan WID / GAD sebagai suatu indikator untuk mengukur sejauh mana intervensi-intervensi memenuhi kebutuhan-kebutuhan praktis dan strategis gender. Strategi memasukkan faktor gender dan perencanaan yang responsif gender untuk menjamin terbaginya tugas-tugas yang lebih seimbang di dalam pembagian kerja gender.

 

PERAN-PERAN GENDER

Peran Gender adalah peran-peran dalam masyarakat yang dilaksanakan oleh perempuan dan laki-laki karena jenis kelamin mereka berbeda. Peran seorang ibu dan ayah, misalnya, melekatkan hak dan kewajiban untuk mengasuh anak-anak dan mencarikan nafkah bagi keluarga. Kedua perangkat peran tersebut dihubungkan dengan perilaku-perilaku dan konsekuensinya adalah nilai-nilai sosial. Apabila individu-indiviidu tidak melaksanakan peran gendernya sesuai dengan harapan-harapan masyarakat, mereka akan mendapatkan sangsi yang cukup serius. Namun, alokasi tugas-tugas dan nilai-nilai tersebut sangat bervariasi di berbagai budaya, komunitas dan berbeda-beda dari waktu ke waktu. Hal tersebut mengindikasikan bahwa peran gender itu dikonstruksikan oleh budaya yang dipengaruhi oleh struktur ekonomi dan politiknya..

PERAN REPRODUKTIF

Yang termasuk di dalam peran reproduktif adalah melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga (memasak, mengambil air dan kayubakar, berbelanja, membereskan rumah dan memelihara kesehatan keluarga) yang diperlukan sebagai jaminan pemeliharaan dan reproduksi tenaga kerja selain juga pemeliharaan angkatan kerja (suami dan anak-anak yang bekerja) dan angkatan kerja masa depan (anak-anak balita dan anak-anak yang masih sekolah). Peran reproduktif penting untuk keberlangsungan hidup manusia, tetapi jarang dianggap sebagai pekerjaan.

Peran reproduktif hampir selalu menjadi tanggung jawab perempuan dewasa dan anak perempuan. Peran reproduktif dianggap bukan sebagai pekerjaan/profesi/fungsi yang menghasilkan sehingga sering kali tak dianggap/dihagai/diupah dengan layak.

 

PERAN POLITIK KOMUNITAS

Peran ini dilakukan terutama oleh laki-laki. Termasuk dalam peran ini adalah pengorganisasian politik formal di tingkat komunitas dalam kerangka politik nasional (misalnya, berkiprah dalam badan-badan sukarela, pengambilan keputusan dalam sidang-sidang desa, memimpin upacara,dsb.). Peran ini biasanya dibayar, baik secara langsung maupun tidak melalui status kekuasaan

 

PERAN PENGELOLAAN KOMUNITAS

Peran ini mencakup kegiatan-kegiatan yang terutama dilakukan oleh kaum perempuan pada tingkat komunitas, sebagai perluasan peran reproduktifnya. Peran ini dilakukan untuk menjamin terpenuhinya dan terpeliharanya berbagai sumberdaya yang digunakan bersama namun yang keberadaannya terbatas seperti air bersih, pelayanan kesehatan dan pendidikan. Peran ini merupakan kinerja sukarela yang tidak dibayar, yang dilakukan di saat senggang, namun sangat penting bagi kelangsungan hidup rumahtangga

 

PEREMPUAN DALAM PEMBANGUNAN

Adalah suatu strategi untuk memperbaiki taraf kehidupan perempuan yang muncul pada masa Dekade PBB untuk Perempuan (1975-1985) utamanya di dalam Konperensi tentang Perempuan Sedunia yang pertama tahun 1975. Strategi ini semata-mata hanya berfokus kepada bagaimana mengintegrasikan perempuan dalam pembangunan tanpa mempersoalkan pembagian kerja gender dan relasi gender yang tidak setara yang lebih banyak merugikan perempuan. Program-program dan proyek-proyeknya hanya terbatas pada kegiatan-kegiatan yang spesifik perempuan karena mereka didisain tanpa melakukan analisis gender terlebih dahulu dan tujuannya hanya untuk memenuhi kebutuhan praktis gender. Strategi ini juga cenderung menganggap perempuan sebagai penerima pasif pembangunan daripada sebagai pelaku aktif pembangunan dalam merubah kenyataan-kenyataan sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang selama ini mereka alami.

 

PERENCANAAN YANG RESPONSIF GENDER

Perencanaan yang responsif gender adalah penggunaan dan pengintegrasian kerangka gender dan Pembangunan ke dalam keseluruhan siklus perencanaan pembangunan dari suatu proyek.Siklus suatu proyek yaitu perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dimana ditiap tahap tersebut partisipasi yang setara antara perempuan dan laki-laki terjadi sehingga kebutuhan-kebutuhan dan potensi-potensi mereka yang berbeda diperhatikan.

PERSPEKTIF GENDER

Menggunakan aspek gender untuk membahas atau menganalisis isu-isu di dalam bidang-bidang: politik, ekonomi, sosial, hukum, budaya, agama, psikologi untuk memahami bagaimana aspek gender tersebut mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan, program, proyek, dan kegiatan-kegiatan. Dalam pembahasan tersebut dipelajari bagaimana faktor gender menumbuhkan diskriminasi dan menjadi perintang bagi kesempatan dan pengembangan diri seseorang.