Workshop “Transformational Women’s Leardership”

Workshop “Transformational Women’s Leardership”

Workshop “Transformational Women’s Leadership ”

Workshop ini ditujukan untuk anggota legislatif perempuan . Kegiatan selama 3 hari ini diselenggarakan pada tanggal 26-28 September 2011 di Kendari yang dihadiri oleh kurang lebih 18 orang terdiri anggota legislatif perempuan dan pengurus partai politik .

Kendari adalah Kota ke tujuh (7) setelah Bengkulu, Semarang, Bandung, Mataram, Surabaya dan Yogyakarta. Kegiatan yang di selenggarakan oleh Koalisi Perempuan Indonesia dan Search for Commond Ground ini sudah dimulai pada awal tahun 2011.

STANDAR GANDA

Istilah yang mendiskripsikan bagaimana masyarakat menggunakan standar yang berbeda untuk memberikan penilaian atas hal-hal yang sama yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Contohnya, perempuan yang tidak menikah yang tidak perawan lagi adalah perempuan yang tercemar, tetapi laki-laki yang tidak menikah yang memiliki pengalaman yang sama (juga tidak perjaka lagi) dianggap alami dan normal: pekerja seks dipandang tidak bermoral, namun hal tersebut tidak akan dikenakan pada kaum laki-laki yang menjadi pelanggannya. Eichler menjelaskan bahwa standar ganda ini berakar dalam semua aspek kehidupan: hukum, ekonomi, pendidikan, media, dan keluarga. Untuk menghapus standar ganda berarti harus menciptakan suatu sistem sosial dan nilai-nilai yang lebih adil.

 

STEREOTIP GENDER

Citra baku yang tentang individu atau kelompok yang tidak sesuai dengan kenyataan empirik yang ada. Pemikiran stereotip tentang ciri-ciri laki-laki dan perempuan biasanya dikaitkan dengan peran gender mereka. Citra baku yang ada pada laki-laki adalah kecakapan, keberanian, pantang menangis, agresif, dan sebagainya yang berkaitan dengan peran gender mereka yaitu sebagai pencari nafkah utama dan pemimpin keluarga. Citra baku yang ada pada perempuan adalah memiliki rasa kasih sayang, kemampuan mengasuh, kehangatan, lembut, pemalu, cengeng. Dalam kenyataan empirik, citra tersebut tidak sesuai. Perempuan juga memiliki kecakapan, keberanian, pantang menangis, agresif, dan sebagainya. Sebaliknya laki-laki juga cengeng, lembut, kasih sayang, pemalu, mampu melakukan pengasuhan dan sebagainya.

PEKERJAAN DOMESTIK

Adalah pekerjaan-pekerjaan rumahtangga yang dilihat sebagai pekerjaan perempuan, dan tidak bernilai ekonomi dan sosial. Dalam konsep pembangunan yang menggunakan perspektif kemitraan gender, kerja domestik seyogyanya menjadi tanggung jawab bersama laki-laki dan perempuan, dan secara ekonomi dan sosial sangat bernilai seperti halnya jenis-jenis kerja yang lainnya

 

PEMBAGIAN KERJA YANG BERBASIS GENDER (1)

Mengacu pada perbedaan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh perempuan dan laki-laki baik di dalam komunitas maupun di dalam rumah, sebagai hasil sosialisasi. Faktor-faktor seperti pendidikan, teknologi, perubahan ekonomi dan krisis yang mendadak, seperti perang serta kelaparan, dapat menyebabkan peran dan pembagian kerja yang berbasis gender berubah. Dengan meneliti pembagian kerja yang berbasis gender dapat terlihat dengan jelas bahwa tugas perempuan dan laki-laki saling tergantung, dan akan terlihat pula bahwa pada umumnya perempuan mempunyai beban pekerjaan yang lebih berat, namun tidak diberikan upah kepadanya baik untuk pekerjaan -pekerjaan yang dilakukannya di rumah maupun untuk pekerjaan yang dilakukannya di dalam komunitas.

 

PEMBAGIAN KERJA ATAU PEMBAGIAN PERAN BERDASARKAN GENDER (2)

Adalah kerja atau peran yang diwajibkan oleh masyarakat kepada perempuan dan laki-laki, baik di dalam rumah maupun di dalam komunitas. Di dalam keluarga, perempuan diwajibkan berperan utama mengerjakan tugas-tugas kerumahtanggaan seperti mengurus anak dan suami serta anggota rumah tangga lainnya seperti orangtua yang telah berusia lanjut; memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan sebagainya; mengajarkan anak-anak akan nilai dan norma yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Laki-laki berkewajiban melindungi anggota keluarga dan mencarikan nafkah untuk semua anggota keluarganya. Membahas pembagian kerja atau pembagian peran berdasarkan gender ini seyogyanya dilakukan berdasarkan pengalaman nyata dari masing-masing jenis kelamin. Hasil pembahasan akan memperlihatkan bahwa perempuan mengalami jam kerja yang lebih panjang (Double day) dibandingkan dengan jam kerja yang dimiliki oleh laki-laki

 

PEMBERDAYAAN PEREMPUAN

Berarti manusia – perempuan dan laki-laki – mampu mengatur hidupnya sendiri. Perempuan dan laki-laki dapat menentukan agendanya sendiri, menambah keterampilannya, meningkatkan kepercayaan-dirinya, memecahkan masalahnya dan membangun kemandiriannya. Orang lain tidak bisa memberdayakan perempuan: hanya perempuan sendiri yang bisa memberdayakan dirinya sendiri, membuat pilihannya sendiri atau berbicara atas namanya sendiri. Sekalipun demikian, lembaga-lembaga, termasuk lembaga pemerintahan, dapat mendukung proses-proses yang dapat meningkatkan kepercayaan diri perempuan, menumbuhkan kemandiriannya, dan membantu mereka menentukan agendanya sendiri

 

PENGARUSUTAMAAN GENDER (1)

Adalah suatu strategi untuk mencapai kesetaraan gender melalui kebijakan publik. Selain itu, ia juga merupakan suatu pendekatan untuk mengembangkan kebijakan yang memasukkan pengalaman-pengalaman dan permasalahan-permasalahan perempuan dan laki-laki ke dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi kebijakan dan program dalam bidang-bidang politik, ekonomi, dan kemasyarakatan. Tujuan pengarusutamaan gender adalah untuk memastikan apakah perempuan dan laki-laki sama-sama menikmati manfaat pembangunan sehingga kesenjangan gender tidak ada lagi).