Inak Ijun, Pejuang Perempuan dari Pesisir Mataram

Inak Ijun, Pejuang Perempuan dari Pesisir Mataram

Oleh Cecilia Novarina

Tanggal 17-24 November kemarin saya berkunjung ke NTB dan saya bertemu Inak Injun di hari ketiga perjalanan saya. Inak Injun adalah anggota dari Balai Perempuan (BP) Kuda Laut binaan Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) NTB yang terletak di daerah pesisis Kota Mataram. Sebelum bergabung dengan KPI, Inak Injun sama sekali belum pernah mempunyai pengalaman berorganisasi. “Dulu saya nggak bisa apa-apa, Mbak. Meskipun saya sekolah, sekolah saya sudah kadaluarsa,” ucapnya. “Pergaulan saya juga hanya di dapur, sudah, itu saja.”

Inak Injun pertama kali bergabung dengan KPI pada pelatihan Pengorganisasian Masyarakat KPI yang didukung oleh Oxfam pada tahun 2011. Dulu, setiap kali Inak Injun diminta berbicara, beliau pasti ijin ke toilet karena terlalu gugup. “Semenjak saya di KPI, saya bisa lancar sedikit Bahasa Indonesianya.” Inak Injun sekarang sudah berani untuk mengikuti berbagai macam acara yang digelar KPI bahkan yang dilaksanakan di luar kota.

Berkat kepercayaan diri yang didapatnya dari KPI, Inak Injun hari ini dikenal sebagai salah satu pejuang untuk mempromosikan hak sipil dan hak atas pendidikan. Perjuangannya dimulai dengan mengupayakan agar anak-anak mendapatkan akta kelahiran gratis dan perempuan mendapatkan akta nikah gratis. Kepemilikan akta kelahiran yang merupakan salah satu pemenuhan hak sipil warga negara, menjadi penting manakala dijadikan persyaratan untuk mendaftar ke sokolah.

Bagi Injun, memperjuangkan kepemilikan akta kelahiran bagi anak-anak adalah memperjuangkan hak mereka untuk mendapatkan pendidikan. Sedangkan akta nikah bagi perempuan, dipahami Injun sebagai bukti formal pernikahan yang bisa digunakan oleh perempuan untuk mendapatkan hak-haknya yang timbul dari pernikahan atau jika pernikahan berakhir. Dengan kegigihannya itu, Ijun telah berhasil mempengaruhi Perusahaan Listrik Negara (PLN) setempat untuk membiayai pembuatan akta kelahiran dan akta nikah bagi anak-anak dan perempuan.

Dalam setiap perjuangan perempuan, langkah akan lebih ringan jika keluarga dan suami memberi dukungan. Demikian juga dengan Inak Ijun. Ia mengaku bahwa suaminya sangat mendukung keterlibatannya di KPI. “Memang suami saya orang jelek, tapi hatinya baik,” ujar Inak Ijun polos.

Cerita Inak Injun merupakan inspirasi bagi kemajuan perempuan. Bagi saya, ada kebanggaan tersendiri ketika menyadari bahwa perubahan di tingkat komunitas sungguh-sungguh terjadi, dan sedikit banyak Oxfam telah ikut berkontribusi pada transformasi personal Inak Injun, hingga berhasil memperjuangkan hak-hak anak dan perempuan lainnya di komunitas.

*diambil dari TANGGUH Buletin OXFAM di Indonesia

Cerita Pendek : Sukma Merenta

Cerita Pendek : Sukma Merenta

Oleh Gracia Asri, Anggota Koalisi Perempuan Indonesia

Seperti ada yang merajalela di dalam tubuhku. Dadaku menggembung, tubuhku menghangat. Sejak itu anak laki- laki mengerling. Lalu ada darah diantara pahaku, saat aku memanjat jambu air kemerahan.

Sebulan kemudian para pinisepuh berkumpul. Aku yakin mereka akan membicarakan aku, meskipun aku tidak boleh ikut perundingan mereka. Urusan orang tua, begitu kata ibuku. Padahal urusan orang tua lainnya seperti pembagian warisan, pengumpulan dana untuk membantu paman yang sakit atau peringatan meninggalnya kakekku saja, aku boleh ikut. Ada satu tamu yang bukan keluargaku. Seorang laki-laki tua, mungkin hampir seumur ayah, hanya lebih jelek, dan bertambah menggelikan dengan kalung emasnya.

Aku dibelikan baju baru, hanya aku. Adikku dan kakak laki-lakiku tidak dibelikan. Untuk pertama kalinya aku merasa seperti angsa putih yang mendongak anggun, dengan paruhnya yang berwarna jeruk segar. Baru kali ini, aku merasa menjadi pusat perhatian semua orang lagi sejak adik perempuanku lahir. Semua orang memberi selamat karena aku sudah jadi gadis cantik. Aku didandani, kata ibu karena banyak tamu. Adik saja tidak dandan, hampir tadi dia menangis karena iri dengan baju baruku. Seorang bibi segera menggendongnya keluar, mengajaknya jalan dengan motor, membelikan permen dan kerupuk sehingga dia berhenti menangis. Kalau adikku sudah naik motor di depan, ia sudah lupa segalanya, dan akan tertawa-tawa karena rambutnya yang tersibak angin.

Aku disuruh duduk saja di teras, menyambut orang-orang yang datang untuk memujiku, sampai aku merasa, seluruh perhatian ini akan menjadi mimpi paling buruk.

Dari sore sampai malam, aku melihat Bang Ardan berseteru dengan bapak untuk membelaku. Bang Ardan sudah kerja, dan sekarang ia sedang sekolah malam dengan penghasilannya. Sumber adu mulut itu, tentu saja diriku. Bang Ardan bahkan menuduh bapak sudah gila. Mereka tidak pernah baku marah sekencang itu. Pada pertengkaran ketiga, bapak mengusirnya dari rumah.

Aku berlari mengejar dan memeluknya. Bang Ardan balas memelukku. Aku mengisakkan aku ikut abang saja.  Abangku hanya diam merah padam hingga keluar air matanya. Ayahku datang dan menarikku dari tangisnya yang hampir pecah. Aku melolong di tanah, melihatnya membalikkan badan, tak mampu melihatku. Bapak menyeretku sampai ke kamar dan mengunci pintu. Ibuku hanya melihat, tak berkata apa-apa untuk membelaku bahkan tidak bergerak untuk mencegah penggeretanku.

Aku tidak pernah melihat pernikahan bahagia di desa ini. Apakah memang sudah seharusnya pernikahan itu terjadi anatara anak perempuan yang baru pertama berdarah dengan laki-laki tua yang kadang sudah beruban. Bapakku sendiri sudah dianggap tetua di desa, sementara ibuku masih hitam semua rambutnya.

Anak perempuan yang tertua yang menikah adalah yang lulus SMP. Itupun karena orang tuanya mengganggap pelamar-pelamar sebelumnya tidak cukup kaya, pak gurunya sendiri misalnya. Jadi biarkan dia sekolah apalagi anaknya pintar. Tentu saja semua pelamar menjanjikan calon istrinya yang masih  anak-anak, akan terus sekolah, tapi mana ada janji dengan bukti di desa ini.

Tidak ada pernikahan  bahagia karena hampir semua anak perempuan tidak ada yang tersenyum di pernikahan mereka. Lebih-lebih lagi setelah pernikahan, meskipun  mereka punya semua yang tidak bisa mereka punya sebelumnya. Pernikahan itu seperti kematian. Make up setebal apapun tidak bisa menutupi kemurungan. Dan sekarang giliranku dihukum mati.

Semakin memikirkannya semakin aku tidak mau mati. Aku akan kelihatan melamun dari luar padahal aku panik di dalam kepalaku. Aku duduk di pintu, sore-sore ingin diculik mahkluk halus, karena katanya mereka biasa menculik anak-anak yang melamun sore-sore. Dondong, kucing kuning kotor mendekatiku. Kabarnya Dondong selalu mendekati orang-orang yang mau mati. Beberapa nenek-nenek, dan bayinya Pini yang prematur itu mati dengan Dondong menemani di bawah tempat tidurnya. Dondong rupanya merasa juga kalau aku mau mati, ia duduk tenang disebelahku. Aku tidak menyentuhnya, bergidik juga, jangan-jangan ia memang datang karena besok aku mati.

Tak lama kemudian, Tombok berlari-lari kecil, begitu anjing kampung peliharaan bersama anak-anak, berhenti di depan tiang jemuran di depan rumah, lalu mengencinginya. Berhenti sebentar, Tombok menggaruk kupingnya. Berjalan sedikit, seperti bertujuan mengganggu ayam-ayam, lalu memasang posisi berak. Pada keadaan biasa aku mengusirnya, kali ini aku malah memperhatikan, bagaimana berak itu keluar dari Tombok. Aku membelai Dondong, aku menemukan ide untuk keluar dari kematian.

Rumah sibuk berbenah. Kabarnya, Robiman, laki-laki tua yang akan jadi algojoku itu, orang lain menyebutnya sebagai calon suamiku, adalah agen surat di kota. Pekerjaannya membantu, begitu istilahnya, pada  orang-orang yang butuh surat, surat apa saja, yang resmi atau tidak resmi, dari KTP sampai Ijazah, dari surat motor sampai surat nikah. Dengan bisnisnya itu, ia akan mampu mendatangkan organ tunggal dan penyanyi dangdut kabupaten untuk pernikahan kami. Orang tua mana yang tidak bangga. Pak Lurah sampai Pak Polsek diundang, aku sendiri berharap tidak diundang, seperti Bang Ardan yang kata Bibi tidak mau pulang.

Aku menyuruh adikku untuk mencari kacang jarak di ladang, dengan imbalan dua kue manis bagianku. Dengan gesit ia berlari, dan tak lama kemudian telapak tangganya ada di depanku penuh dengan kacang jarak. Aku gembira dan langsung memberikan tiga roti bagianku. Aku menyimpan kacang jarak untuk nanti sore, di saku tas penganten kecilku yang kuning mengkilap. Senyumku saat membayangkan rencanaku, ditangkap ibuku sebagai  tanda bahagia.

Diarak ke depan penghulu, aku membayangkan makan. Aku akan makan semuanya, tanpa minum, supaya perutku benar-benar penuh. Tak ada seorang pun yang menyaksikan pernikahan ini sebagai keanehan, aku yang masih kecil, disandingkan dengan laki-laki tua peyot itu. Bagaimana tamu-tamu itu bisa membayangkan aku akan tidur satu ranjang dengannya, sementara tidur dengan si botak, sepupu laki-lakiku saja, mereka sudah berpikir macam-macam.

Aku hampir saja tidak mengucapkan bersedia karena menangis. Aku ingin pingsan tapi tidak bisa pingsan. Satu persatu mereka menyalami dan menciumku, seperti memberi selamat orang mati. Untungnya acara makan yang kutunggu tiba. Aku makan sebanyak-banyaknya. Sepertinya ini makanan terbanyak yang bisa kutelan selama hidupku. Nasi, opor ayam, sambal goreng daging, tahu, tempe, sayur urap dengan kelapa muda, perkedel kentang, kacang bawang, emping, pepaya, semangka, dan kue penganten bertingkat tiga dari kota.

Sore setelah organ tunggal dan dangdut selesai. Aku dibawa kekamar penganten. Algojo itu datang dan mengganti bajunya. Aku berkata, “boleh lihat jam tangannya ?” Ia pun menyeringai, mencopotnya dan memberikannya padaku, “Ini jam paling mahal.” Katanya sambil mengelus daguku. Ia pun pergi meninggalkanku di kamar. Aku segera mengunci kamar, membuka tas pengantinku dan menelan semua kacang jarak yang kusimpan.

Setengah jam kemudian, perutku mulai bergejolak. Laki-laki itu datang mengetuk, “Bukakan pintu untuk abah dong”. Aku menjawab, “Mau istirahat dulu, biar nanti seger.” Aku seperti melihatnya menyeringai di balik pintu dan ia pun pergi. Perutku semakin meronta-ronta. Yang kuharapkan terjadi, aku pun muntah. Kacang jarak kalau dimakan akan bikin muntah dan mencret. Aku mengepaskan muntahan itu di bantal pengantin. Kepalaku juga mulai berputar, Aku mencari barang milik laki-laki itu dan menemukan koper pakaiannya. Aku pun membukanya dan pas akupun muntah disana. Cairan hijau kekuningan berbau itu pun membanjiri baju-bajunya. Semangka yang kutelan cepat-cepat juga terlihat kemerahan, meski tak lagi berbau wangi semangka.

Aku berpegangan di tempat tidur dengan lemas, belum selesai rasanya aku bernafas aku ingin mencret. Aku pun membuka celana, mengeluarkan surat-surat dari koper laki-laki itu dan berak disana.  Aku menutup muka dengan selendang karena tak tahan sendiri dengan bau berak campur muntah yang kuperbuat. Semakin lemas, dengan mata berkunang-kunang aku mengambil jam tangan yang dibanggakannya itu meletakkannya di lantai dan memencretkan berakku tepat disana. Lalu aku beranjak ke bawah jendela, satu-satunya tempat yang belum kuberaki, dan mencoba tertidur disana dengan selendang di hidungku. Aku tidak lagi berdaya, laki-laki itu datang lagi, mengetuk keras, memanggilku dan akhirnya mendobrak pintu. Menyadari barang-barangnya yang berbau itu, ia pun menendang pantatku dan berteriak-teriak memanggilku setan, sementara dia sendiri seperti kerasukan setan.

Laki-laki itu berlari keluar dan. Tak pernah kembali. Aku membebaskan diri dari pernikahan, untuk selamanya.

Perempuan Sumba Tengah Menyuarakan Haknya

Perempuan Sumba Tengah Menyuarakan Haknya

Waibakul, 18 Oktober 2015

“Saya sedang sakit, tapi mendengar kegiatan ini saya langsung bangun dari tempat tidur dan saya bilang harus ikut . Saya tidak mengerti sakit saya langsung hilang. Jalan kaki dari Kotiku Loku ke Taman Gogali Rotiwaya dengan semangat. Saya tidak merasa malas. Nasib Perempuan harus diperjuangkan. Selama ini nasib perempuan selalu dipinggirkan di taruh di belakang. Saatnya perempuan sumba Tengah harus bangkit dan perjuangkan hak-haknya,“
Mama Anakopi, BP Makatakeri- Sumba Tengah.

LONGMARCH Sumba Tengah

Ratusan Mama-mama bersama anak perempuan dan laki-laki berjalan dari Depan Gereja ST Klemens – Kotiku Loku menuju Taman Gogali Rotiwaya Sumba Tengah dengan menyuarakan lantang hak-hak dan tuntutan kepada masyarakat di Sumba Tengah. Longmarch yang diselenggarakan dalam rangka Hari Perempuan Pedesaan Internasional ini diselenggarakan oleh Koalisi Perempuan Cabang Sumba Tengah bekerjasama dengan gereja, sekolah , jaringan masyarakat sipil dan dibuka langsung oleh Bapak Umbu Mbesi Asisten I SETDA Sumba Tengah. Dalam sambutan BUPATI Sumba Tengah yang dibacakan Asisten 1 menyambut baik kegiatan yang dilakukan oleh Koalisi Perempuan Indonesia cabang Sumba Tengah mengingat ini adalah yang pertama kali di Sumba Tengah dan menyampaikan terima kasih serta berharap ini adalah langkah strategis untuk meningkatkan kualitas dan partisipasi perempuan dalam pembangunan.

Obor & Lilin

Longmarch yang menempuh jarak sekitar lima kilometer memberikan kesan yang mendalam . Sesampai di Lapangan Gogali panitia sudah menyiapkan ratusan obor dan juga lilin yang dibentuk tulisan “Perempuan” . Semua peserta lalu membentuk setengah lingkaran dan berdoa bersama . SEKCAB Sumba Tengah dalam sambutannya menyampaikan iniadalah pertama dilakukan dan berharap semangat kebersamaan dalam mewujudkan cita-cita tidak pernah surut. Malam seribu lilin juga dimeriahkan dengan pembakaran petasan . Pembacaan Puisi bertema Ibu dibacakan oleh Arnold Sailang yang banyak membuat mama-mama tersentuh. Lilin telah dinyalakan berarti semangat juga dinyalakan untuk perjuangan memperoleh hak-hak dan pengakuan partisipasi perempuan dalam pembangunan.

Salam kami dari Tana Humba

Mengenang Perjuangan Perempuan dari Tanah Celebes untuk Indonesia

Mengenang Perjuangan Perempuan dari Tanah Celebes untuk Indonesia

Kepergian Zohra Andi Baso tak hanya menyisakan kesedihan dan kehilangan mendalam. Namun berbagai karya atas perjuangan dan kegigihan beliau masih dapat kita rasakan. Pada 27 April 2015, Koalisi Perempuan Indonesia mengadakan acara “Mengenang Perjuangan Perempuan dari Tanah Celebes untuk Indonesia” untuk peringatan 40 hari meninggalnya Zohra Andi Baso serta memperingati 63 tahun kelahirannya.

Sekretaris Jendral Koalisi Perempuan Indonesia, Dian Kartika Sari membuka acara dengan memberikan sambutan kepada para kerabat dan jejaring yang hadir serta menceritakan kesannya terhadap Perjuangan Perempuan dari Tanah Celebes yang telah lama berjuang melawan penyakit Cardio Carcinoma. Kemudian acara dilanjutkan dengan doa dari berbagai pemimpin aliran kepercayaan seperti Hindu, Konghucu, Budha, Islam serta Kristen.

Ada pula penyampaian kesan atas sosok Zohra Andi Baso dari kolega KAPAL Perempuan (Missi), Solidaritas Perempuan (Dewi), Yayasan Kesehatan Perempuan (Tini Hadad), serta Presidium Nasional Koalisi Perempuan Indonesia yaitu Luki Paramita dan Titiek Kartika. Tidak hanya itu, acara juga diramaikan dengan pembacaan puisi oleh Gracia yang menceritakan sosok pejuang inisiator lahirnya Perda Trafficking tersebut. Semoga kepergian Zohra Andi Baso dapat melahirkan pejuang-pejuang perempuan tangguh lainnya.

admin

Marsinah

Marsinah

“Buruh belum mendapatkan keadilan sejati dari pemerintah. Buruh harus menyatukan kekuatannya. buruh harus bersatu, buang kepentingan individu, dan kedepankan kepentingan buruh dan rakyat.” Marsinah (1969-1993)

Suasana kota yang penuh dengan persaingan telah membuat setiap orang yang tinggal di dalamnya untuk menjadi keras. Apalagi kehidupan buruh-buruh di pabrik yang setiap hari dikejar-kejar target produksi yang telah ditetapkan sepihak oleh pengusaha demi laba mereka sendiri. Maka menjadi tidak mengherankan bahwa Marsinah, gadis desa yang lugu, lalu tidak canggung berdiri di barisan terdepan pengunjuk rasa dalam memperjuangkan nasib buruh. Sebuah keberanian telah menggusur kepasrahan pada nasib!

17 tahun telah berlalu semenjak tragedi pembunuhan Marsinah dan belum ada perubahan yang fundamental bagi kesejahteraan buruh. Sekarang kehidupan kaum buruh justru semakin parah dan semakin tidak jelas. Kepastian kerja dan penghidupan yang layak bagi buruh masih jauh dari harapan. Ini bisa dilihat dari banyaknya kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada pada buruh.

Di masa rejim Orde Baru ketika buruh menuntut kesejahteraan dan melakukan mogok kerja, mereka selalu berhadapan dengan tentara. Setelah kejatuhan rejim Orde Baru pada tahun 1998, hampir semua orang berharap akan adanya perubahan terhadap kebijakan pemerintah di sektor perburuhan. Namun yang terjadi justru kebalikannya. Dalam memperjuangkan kesejahteraanya sekarang buruh tidak lagi berhadapan dengan moncong senjata (walau kadang-kadang masih ada aksi kekerasan terhadap buruh yang berjuang), tapi dihadapkan pada kebijakan-kebijakan neo-liberalisme pemerintah Indonesia. Pasar bebas semakin merajalela di Indonesia dan ini menjadi rantai yang membelenggu rakyat pekerja dan mengeksploitasinya dengan semakin kejam di roda-roda mesin pabrik.

Pengetahuan Mengubah Nasib

Marsinah lahir tanggal 10 April 1969. Anak nomor dua dari tiga bersaudara ini merupakan buah kasih antara Sumini dan Mastin. Sejak usia tiga tahun, Marsinah telah ditinggal mati oleh ibunya. Bayi Marsinah kemudian diasuh oleh neneknya—Pu’irah—yang tinggal bersama bibinya—Sini—di desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur.

Pendidikan dasar ditempuhnya di SD Karangasem 189, Kecamatan Gondang. Sedang pendidikan menengahnya di SMPN 5 Nganjuk. Sedari kecil, gadis berkulit sawo matang itu berusaha mandiri. Menyadari nenek dan bibinya kesulitan mencari kebutuhan sehari-hari, ia berusaha memanfaatkan waktu luang untuk mencari penghasilan dengan berjualan makanan kecil.

Di lingkungan keluarganya, ia dikenal anak rajin. Jika tidak ada kegiatan sekolah, ia biasa membantu bibinya memasak di dapur. Sepulang dari sekolah, ia biasa mengantar makanan untuk pamannya di sawah. “Dia sering mengirim bontotan ke sawah untuk saya. Kalau panas atau hujan, biasanya anak itu memakai payung dari pelepah pisang,” kenang Suradji, pamannya Marsinah sambil menerawang. Berbeda dengan teman sebayanya yang lebih suka bermain-main, ia mengisi waktu dengan kegiatan belajar dan membaca. Kalaupun keluar, paling-paling dia hanya pergi untuk menyaksikan siaran berita televisi.

Ketika menjalani masa sekolah menengah atas, Marsinah mulai mandiri dengan mondok di kota Nganjuk. Selama menjadi murid SMA Muhammadiyah, ia dikenal sebagai siswa yang cerdas. Semangat belajarnya tinggi dan ia selalu mengukir prestasi dengan peringkat juara kelas. Jalan hidupnya menjadi lain ketika ia terpaksa harus menerima kenyataan bahwa ia tidak punya cukup biaya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, seperti juga nasib jutaan anak sekolah di Indonesia yang tidak mampu menyelesaikan sekolahnya karena tidak punya biaya.

Kondisi keluarga yang miskin membuat Marsinah meninggalkan desanya, sebuah langkah hidup yang sulit terelakan. Kesempatan kerja di pedesaan semakin sempit. Kerja sebagai buruh tani makin kecil peluangnya. Sekarang ani-ani—alat tradisional penuai padi—sudah berganti dengan sabit yang lebih efisien dan tidak memerlukan jumlah tenaga kerja sebanyak sebelumnya. Perkembangan teknologi, bukannya meningkatkan kesejahteraan rakyat, justru semakin menyingkirkan para buruh tani. Tidak mengherankan, bau keringat bercampur tanah sawah sudah tidak lagi memenuhi udara pedesaan. Lenguhan sapi yang kelelahan membajak tanah semakin jarang terdengar. Ia telah disingkirkan oleh deru mesin traktor.

Ujungnya adalah tidak ada pilihan lagi selain pergi ke kota. Maka ia berusaha mengirimkan sejumlah lamaran ke berbagai perusahaan di Surabaya, Mojokerto, dan gresik. Akhirnya ia diterima di pabrik sepatu BATA di Surabaya tahun 1989 dan memulai kehidupannya sebagai buruh seperti halnya jutaan kaum tani yang terseret ke pabrik-pabrik karena kemiskinan yang parah di pedesaan. Setahun kemudian ia pindah ke pabrik arloji Empat Putra Surya di Rungkut Industri, sebelum akhirnya ia pindah mengikuti perusahaan tersebut yang membuka cabang di Siring, Porong, Sidoarjo. Marsinah adalah generasi pertama dari keluarganya yang menjadi buruh pabrik.

Kegagalan meneruskan ke perguruan tinggi bukannya membuat semangat belajarnya padam. Marsinah berkeyakinan bahwa pengetahuan itu mampu mengubah nasib seseorang. Semangat belajar yang tinggi tampak dari kebiasaannya menghimpun berbagai informasi. Ia suka mendengarkan warta berita, baik lewat radio maupun televisi. Minat bacanya juga tinggi. Pada waktu-waktu luang, ia seringkali membuat kliping koran. Malahan untuk kegiatan yang satu ini ia bersedia menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membeli koran dan majalah bekas, meskipun sebenarnya penghasilannya pas-pasan untuk menutup biaya hidup.

Marsinah Berjuang

Ia dikenal sebagai seorang pendiam, lugu, ramah, supel, ringan tangan dan setia kawan. Ia sering dimintai nasihat mengenai berbagai persoalan yang dihadapi kawan-kawannya. Kalau ada kawan yang sakit, ia selalu menyempatkan diri untuk menjenguk. Selain itu ia seringkali membantu kawan-kawannya yang diperlakukan tidak adil oleh atasan. Ia juga dikenal sebagai seorang pemberani.

Paling tidak dua sifat yang terakhir disebut—pemberani dan setia kawan—inilah yang membekalinya menjadi pelopor perjuangan. Pada pertengahan April 1993, para buruh PT. CPS (Catur Putra Surya)—pabrik tempat kerja Marsinah—menyambut dengan senang hati kabar kenaikan upah menurut Surat Edaran Gubernur Jawa Timur. Dalam surat itu termuat himbauan pada para pengusaha untuk menaikkan upah buruh sebesar 20% dari upah pokok, namun himbauan ini tidak digubris oleh PT. CPS karena jelas akan membuat rugi perusahaan dan ini menimbulkan keresahan di antara para buruh.

Keresahan tersebut akhirnya berbuah perjuangan. Pada tanggal 3 Mei 1993 buruh PT. CPS mogok kerja dan menuntut kenaikan upah seusai dengan Surat Edaran Guberner Jawa Timur. Sebagian buruh bergerombol dan mengajak teman-teman mereka untuk mogok kerja. Hari itu juga, Marsinah pergi ke kantor Depnaker Surabaya untuk mencari data tentang daftar upah pokok minimum regional. Data inilah yang ingin Marsinah perlihatkan kepada pihak pengusaha sebagai penguat tuntutan pekerja yang hendak mogok.

Tanggal 4 Mei 1993 pukul 07.00 para buruh PT. CPS melakukan unjuk rasa dengan mengajukan 12 tuntutan. Seluruh buruh dari ketiga shift serentak masuk pagi dan mereka bersama-sama memaksa untuk diperbolehkan masuk ke dalam pabrik. Satpam yang menjaga pabrik menghalang-halangi para buruh shift II dan shift III. Tidak ketinggalan, para satpam juga mengibas-ibaskan tongkat pemukul serta merobek poster dan spanduk para pengunjuk rasa sambil meneriakan tuduhan PKI kepada para pengunjuk rasa.

Berakhirkah pertentangan antara buruh dengan pengusaha? Ternyata tidak! Tanggal 5 Mei 1993, 13 buruh dipanggil kodim Sidoarjo. Pemanggilan itu diterangkan dalam surat dari kelurahan Siring. Tanpa babibu, tentara mendesak agar ke-13 buruh itu menandatangani surat PHK. Para buruh terpaksa menerima PHK karena tekanan fisik dan psikologis yang bertubi-tubi. Dua hari kemudian menyusul 8 buruh di-PHK di tempat yang sama. Sungguh! Hukum menjadi kehilangan gigi ketika senapan tentara ikut bermain.

Marsinah sadar betul bahwa peristiwa yang menimpa kawan-kawannya, dan juga dirinya sendiri, adalah suatu keniscayaan di negeri milik pengusaha ini. Dari kliping-kliping surat kabar yang diguntingnya, dari keluhan-keluhan kawan-kawannya se pabrik, dari kemarahan-kemarahan dan teriakkan, dan dari apa yang ia lihat dengan mata kepala sendiri, semuanya memberinya pengetahuan tentang ketidakberesan dalam masyarakat Indonesia.

Marsinah, dengan semangat kesetiawakawannya, mendatangi Kodim Sidoarjo sendirian pada hari itu juga untuk menanyakan nasib 13 rekannya yang dibawa ke sana. Sekitar pukul 10 malam, Marsinah lenyap. Kawan-kawan Marsinah tidak mengetahui keberadaannya sampai tanggal 9 Mei, ketika mayat Marsinah ditemukan.

Marsinah, Inspirasi Buruh

Marsinah adalah sosok perjuangan yang telah dihancurkan oleh rejim penguasa yang takut dan kawatir akan bangkitnya perlawanan buruh. Namun jiwa dan semangat Marsinah tidak bisa dipenjara. Jiwanya akan membumbung tinggi untuk berubah menjadi lidah-lidah api yang akan menghanguskan segala bentuk ketidakadilan.

Anak-anak desa yang menemukan Marsinah, dan juga kita semua, sudah menjadi saksi. Sekarang dan esok, kita akan terus bersaksi dan bercerita tentang ketidakadilan yang rampan di bumi Indonesia, tentang gugurnya seorang buruh pejuang, tentang buruh perempuan yang tidak takut kehilangan nyawanya demi keyakinannya untuk keadilan buruh. Mari kita kenang Marsinah dengan menyingsingkan lengan baju kita untuk memperjuangkan sosialisme sebagai satu-satunya jalan keluar dari kesengsaraan kapitalisme.

Sumber : militanindonesia.org
Ditulis oleh Fatkhul Khoir

 

Umi Sardjono

Umi Sardjono

Terlahir sebagai anak seorang Lurah, Umi terlibat dalam perjuangan melawan jepang sejak usia 20 tahun dengan bergabung dalam Laskar Perempuan. Masuk penjara bukan hal baru bagi Umi, baik ketika melawan Jepang maupun Belanda. Saat tertangkap di Blitar, Umi bertemu dengan SK Trimurti yang kemudian menjabat sebagai Menteri Perburuhan pada era Amir Syarifudin.

Kemerdekaan digenggam namun perjuangan memerangi imperialisme belum tamat. Untuk memperkuat perjuangan emansipasi, sejumlah perempuan memandang perlu membangun suatu organisasi perempuan yang berkesadaran politik. Berdirilah Gerakan Perempuan Indonesia Sedar (Gerwis) dan melakukan kongres pada tahun 1950. Gerwis merupakan gabungan dari tujuh organisasi perempuan.Tris Metty terpilih sebagai ketua sedangkan Umi dan Trimurti sebagai wakil ketua.

Pada tahun 1960-an merupakan masa keemasan Gerwani dan merupakan titik terpenting kepemimpinan Umi Sarjono. Jumlah kader terus bertambah, berbagai program terus berjalan mulai dari pendirian sekolah-sekolah dan penitipan anak, kursus-kursus pemberantasan buta huruf hingga kampanye Irian Barat. Gerwani mendidik kadernya untuk menjadi perempuan melek politik dan mandiri. Organiser perempuan setiap hari turun ke basisi-basis petani dan buruh,mendirikan TK Melati, penitipan anak, kursus buta huruf gratis.

Tercatat sekitar 1.500 balai penitipan anak dibangun oleh Gerwani tahun 1960-an. Para petani,buruh tak perlu bayar. Dari sinilah rakyat banyak mendaftar sebagai anggota. Nilai-nilai yang dipasok ke anggotanya adalah kemerdekaan,kerja keras dan pengabdian pada perjuangan.

Tahun 1959 Umi melangkah ke Parlemen sebagai utusan dari Fraksi Golongan Karya. Populer di basis,dalam politikpun pengaruh Umi makin diperhitungkan.Umi dikenal sebagai konseptor dan piawai melakukan lobi. Pada tahun 1965,Umi ditangkap saat selesai bersidang di Senayan. Umi ditangkap berlima dengan Salawati Daud, Ny.Mudigdo, Siti Aminah, Dahliar dan digelandang ke Markas Kostrad.Diinterogasi berhari-hari akhirnya dijebloskan ke Penjara Bukit Duri selama 13 tahun.

Gerwani,organisasi yang dibangun selama 15 tahun yang bervisi tegas memperjuangkan hak perempuan dan melawan imperialisme akhirnya tumbang. Organisasi dengan anggota 1,5 juta orang tersebut runtuh seketika dan Gerwani dicap sebagai organisasi beringas dan amoral.Dalam pemeriksaan terhadap Umi Sarjono,berkali-kali ia menolak fitnah keji terhadap Gerwani.

Sejarah yang ditulis dalam Orde Baru telah mencuci otak jutaan rakyat Indonesia, untuk membenci Gerwani,organisasi perjuangan terbesar dalam sejarah Indonesia. Berbagai bukti dari para peneliti akhirnya menguak kebenaran sejarah,bagaimana upaya memfitnah Gerwani tersebut. Hasil Outopsi terhadap mayat para Jenderal misalnya,ternyata secara resmi menyatakan tidak ada penyiksaan terhadap tubuh korban termasuk pemotongan anggota tubuh para korban.

Orde Baru bisa memenjarakan tubuh Umi Sarjono, tetapi tidak pikirannya.Pikiran Umi Sarjono dan para pejuang lainnya akan terus hidup dan menginspirasi perjuangan generasi berikutnya…generasi yang sadar bahwa selama ini telah dipecundangi oleh kekuasaan yang membungkam suara rakyatnya.

sumber : google.com

Workshop “Transformational Women’s Leardership”

Workshop “Transformational Women’s Leardership”

Workshop “Transformational Women’s Leadership ”

Workshop ini ditujukan untuk anggota legislatif perempuan . Kegiatan selama 3 hari ini diselenggarakan pada tanggal 26-28 September 2011 di Kendari yang dihadiri oleh kurang lebih 18 orang terdiri anggota legislatif perempuan dan pengurus partai politik .

Kendari adalah Kota ke tujuh (7) setelah Bengkulu, Semarang, Bandung, Mataram, Surabaya dan Yogyakarta. Kegiatan yang di selenggarakan oleh Koalisi Perempuan Indonesia dan Search for Commond Ground ini sudah dimulai pada awal tahun 2011.

tribute to Marsinah dan Umi Sardjono

tribute to Marsinah dan Umi Sardjono

Marsinah (lahir 10 April 1969 meninggal 8 Mei 1993 pada umur 24 tahun)
Adalah salah seorang karyawati PT. Catur Putera Surya yang aktif dalam aksi unjuk rasa buruh. Keterlibatan Marsinah dalam aksi unjuk rasa tersebut antara lain terlibat dalam rapat yang membahas rencana unjuk rasa pada tanggal 2 Mei 1993 di Tanggul Angin Sidoarjo.
Siang hari tanggal 5 Mei, tanpa Marsinah, 13 buruh yang dianggap menghasut unjuk rasa digiring ke Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo. Di tempat itu mereka dipaksa mengundurkan diri dari CPS. Mereka dituduh telah menggelar rapat gelap dan mencegah karyawan masuk kerja. Marsinah bahkan sempat mendatangi Kodim Sidoarjo untuk menanyakan keberadaan rekan-rekannya yang sebelumnya dipanggil pihak Kodim. Setelah itu, sekitar pukul 10 malam, Marsinah lenyap. Mulai tanggal 6,7,8, keberadaan Marsinah tidak diketahui oleh rekan-rekannya sampai akhirnya ditemukan telah menjadi mayat pada tanggal 8 Mei 1993.

Umi Sardjono (lahir 24 Desember 1923 – wafat 11 Maret 2011)
Pada nisan kayu di atas gundukan tanah merah itu tertulis Suharti Sumodiwiryo, Lahir 24 Desember 1923, Wafat 11 Maret 2011. Mungkin siapa pun yang bertandang ke makam itu pada suatu hari nanti tak akan tahu bahwa di situ terbaring Umi Sardjono pejuang perempuan sosialis yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk menebus pembebasan Negara dan rakyat pekerja dari penjajahan kolonialis-fasis-imperialis namun berujung pada penghancuran atas diri, organisasi, partai dan gerakannya oleh tangan bangsa sendiri. Seperti halnya kawan-kawannya yang dibunuh atau hilang pada 1948 dan 1965, Umi Sardjono akan menjadi unsur yang (di)hilang(kan) dalam sejarah Indonesia, bahkan sejarah gerakan perempuan, karena demikianlah mainstream sejarah menginginkannya.

Dalam rangka memperingati 17 tahun gugurnya Marsinah dan 40 hari wafatnya Ibu Umi Sardjono, Barisan Perempuan Indonesia (BPI) akan melakukan kegiatan doa bersama yang akan diadakan di Studio Dolorosa , besok malam (8 Mei 2011).

Kartini tulang punggung Pemberantasan Korupsi

Kartini, Tulang Punggung Berantas Korupsi
SEBAGAI tulang punggung ekonomi rumah tangga, gerak perempuan sudah teruji. Lalu, bagaimana jika perempuan sebagai ujung tombak pemberantasan korupsi?
Pentingnya peran perempuan dalam menyetir keluarga untuk melawan benih-benih korupsi ini menjadi perbincangan hangat dalam seminar bertema Kartini melawan korupsi, yang diadakan Indonesia Corruption Watch (ICW) di Mal Depok, Jawa Barat, Sabtu (22/4).

Read more