Cerita dari Balai Perempuan Jogoyudan

Cerita dari Balai Perempuan Jogoyudan

Untuk mewujudkan visi sebagai organisasi massa perempuan yang dapat mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender menuju masyarakat yang demokratis, sejahtera dan beradab,  Koalisi Perempuan Indonesia mendorong anggotanya menjadi agen perubahan yang dapat membela hak-hak perempuan dan kelompok yang dipinggirkan. Koalisi Perempuan Indonesia memiliki sistem Pendidikan Kader Berjenjang untuk anggotanya. Dimulai dari Pendidikan Kader Dasar, Pendidikan Kader Menengah, dan Pendidikan Kader Lanjut, dengan adanya pendidikan kader ini Koalisi Perempuan Indonesia memberikan peningkatan kapasitas dan peluang bagi perempuan untuk menjadi agen perubahan, pemberdaya hak politik perempuan, hingga sebagai unsur penting dalam gerakan masyarakat sipil untuk keadilan dan demokrasi.

Dari liputan redaksi SEMAI di Daerah Istimewa Yogyakarta, Suparti, anggota Koalisi Perempuan Indonesia Kelompok Kepentingan Miskin Kota di Balai Perempuan Jogoyudan mengungkapkan perkembangan pribadinya selama bergabung dengan Koalisi Perempuan, “saya sudah bergabung sejak 2015, pelatihan yang saya ikuti baru Pendidikan Kader Dasar. Sejak bergabung di Koalisi Perempuan Indonesia pengalaman saya bertambah, saudara perempuan juga bertambah, saya tahu mengenai Badan Penyelenggara Jaminan Sosial mulai dari bagaimana cara membayar dan menggunakannya, hingga bagaimana cara orang yang tak mampu harus mendapatkan Jaminan Kesehatan Nasional. Selain itu saya juga mengetahui apa itu Kekerasan dalam Rumah Tangga dan bagaimana cara mencegah serta menanganinya.”

Suparti, anggota Koalisi Perempuan Indonesia Kelompok Kepentingan Miskin Kota

Meski pengetahuan Suparti mengenai Jaminan Kesehatan Nasionalbertambah hal ini tak sejalan dengan pengalaman yang dia rasakan, dia tak pernah merasakan Jaminan Kesehatan Nasional. Selama ini jika ada anggota keluarganya yang sakit Suparti dapat menggunakan Jaminan Kesehatan Daerah, tapi ada kekhawatiran yang membayangi dirinya, “saya khawatir jika walikota atau pemimpinnya berganti dan terjadi perubahan kebijakan, saya takut Jamkesda tak berlaku lagi,” ujarnya.

Suparti yang merupakan ibu rumah tangga memiliki dua orang anak, “suami saya berjualan nasi rames, penghasilan hanya pas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, jika anak sudah mulai besar dan biaya akan semakin bertambah terutama biaya pendidikan.” Biaya ekonomi, terutama biaya kesehatan dan pendidikan yang selalu meningkat menjadi permasalahan yang menghantui Suparti dan keluarga. Usianya tak muda lagi, tak mungkin bekerja sebagai penjaga toko, lapangan pekerjaan pun makin sempit dan usaha suaminya tak lagi bisa menopang kehidupan mereka selamanya.

“Saya berharap mendapatkan bantuan berupa kartu Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan juga Kartu Indonesia Pintar (KIP), katanya beberapa tetangga saya mendapatkan Program Keluarga Harapan (PKH), tetapi saya tidak dapat program itu. Mungkin sewaktu pendataan, saya dulu sedang bekerja sehingga terlewat atau mungkin rumah saya tinggal dianggap sudah layak, padahal itu hanya rumah kontrakan,” kata Suparti sambil melihat rumah di sekitarnya.

Presidium Wilayah Jogyakarta Kelompok Kepentingan Miskin Kota, De Listiyaningsih

Redaksi SEMAI juga sempat mewancarai Presidium Wilayah Jogyakarta Kelompok Kepentingan Miskin Kota, De Listiyaningsih (56 tahun), atau biasa dipanggil Lis. Lis telah bergabung dengan Koalisi Perempuan Indonesia sejak 2005. Kemudian terpilih dan menjadi presidium wilayah selama 2 periode. “Saya mengikuti banyak pelatihan di Jakarta, pernah ke Semarang untuk mengikuti pelatihan Community Organizer selama 10 hari, dan Pendidikan Kader Menengah di Surabaya. Selama mengikuti Koalisi Perempuan Indonesia saya lebih maju, banyak pengalaman, teman, dan kepandaian.”

Terkait Jaminan Kesehatan Nasional Lis mendaftar secara mandiri, “saya rasa pelayanan dan obatnya bagus. Saya pun mendapat informasi jika ada pemeriksaan gratis seperti untuk mengecek gula darah atau Pap Smear (mendeteksi kanker Rahim).”

Lis bercerita bahwa permasalah perempuan di sekitar Balai Perempuan Jogoyudan cukup beragam, mulai dari kepemimpinan perempuan hingga permasalahn rumah tangga, “kami di Koalisi Perempuan Indonesia memberi tahu solusi tapi keputusan ada di mereka (perempuan). Kepemimpinan perempuan di sini hampir tidak ada, kami terus mendorong supaya perempuan menjadi ketua RT/RW, tetapi belum ada kesempatan karena masyarakat masih mengindolakan pemimpin itu harus laki-laki. Kami berusahan mengubah pemikiran tersebut. Saya pribadi kemarin sempat mencalonkan diri menjadi Ketua RT tetapi tidak diperbolehkan karena saya sendiri (janda). Saya merasa dirugikan, itu hak toh, semua punya hak tapi perempuan di sini masih disingkirkan karena banyak laki-laki yang mampu memimpin.”

 

 

-Gabrella Sabrina

Umi Sardjono

Umi Sardjono

Terlahir sebagai anak seorang Lurah, Umi terlibat dalam perjuangan melawan jepang sejak usia 20 tahun dengan bergabung dalam Laskar Perempuan. Masuk penjara bukan hal baru bagi Umi, baik ketika melawan Jepang maupun Belanda. Saat tertangkap di Blitar, Umi bertemu dengan SK Trimurti yang kemudian menjabat sebagai Menteri Perburuhan pada era Amir Syarifudin.

Kemerdekaan digenggam namun perjuangan memerangi imperialisme belum tamat. Untuk memperkuat perjuangan emansipasi, sejumlah perempuan memandang perlu membangun suatu organisasi perempuan yang berkesadaran politik. Berdirilah Gerakan Perempuan Indonesia Sedar (Gerwis) dan melakukan kongres pada tahun 1950. Gerwis merupakan gabungan dari tujuh organisasi perempuan.Tris Metty terpilih sebagai ketua sedangkan Umi dan Trimurti sebagai wakil ketua.

Pada tahun 1960-an merupakan masa keemasan Gerwani dan merupakan titik terpenting kepemimpinan Umi Sarjono. Jumlah kader terus bertambah, berbagai program terus berjalan mulai dari pendirian sekolah-sekolah dan penitipan anak, kursus-kursus pemberantasan buta huruf hingga kampanye Irian Barat. Gerwani mendidik kadernya untuk menjadi perempuan melek politik dan mandiri. Organiser perempuan setiap hari turun ke basisi-basis petani dan buruh,mendirikan TK Melati, penitipan anak, kursus buta huruf gratis.

Tercatat sekitar 1.500 balai penitipan anak dibangun oleh Gerwani tahun 1960-an. Para petani,buruh tak perlu bayar. Dari sinilah rakyat banyak mendaftar sebagai anggota. Nilai-nilai yang dipasok ke anggotanya adalah kemerdekaan,kerja keras dan pengabdian pada perjuangan.

Tahun 1959 Umi melangkah ke Parlemen sebagai utusan dari Fraksi Golongan Karya. Populer di basis,dalam politikpun pengaruh Umi makin diperhitungkan.Umi dikenal sebagai konseptor dan piawai melakukan lobi. Pada tahun 1965,Umi ditangkap saat selesai bersidang di Senayan. Umi ditangkap berlima dengan Salawati Daud, Ny.Mudigdo, Siti Aminah, Dahliar dan digelandang ke Markas Kostrad.Diinterogasi berhari-hari akhirnya dijebloskan ke Penjara Bukit Duri selama 13 tahun.

Gerwani,organisasi yang dibangun selama 15 tahun yang bervisi tegas memperjuangkan hak perempuan dan melawan imperialisme akhirnya tumbang. Organisasi dengan anggota 1,5 juta orang tersebut runtuh seketika dan Gerwani dicap sebagai organisasi beringas dan amoral.Dalam pemeriksaan terhadap Umi Sarjono,berkali-kali ia menolak fitnah keji terhadap Gerwani.

Sejarah yang ditulis dalam Orde Baru telah mencuci otak jutaan rakyat Indonesia, untuk membenci Gerwani,organisasi perjuangan terbesar dalam sejarah Indonesia. Berbagai bukti dari para peneliti akhirnya menguak kebenaran sejarah,bagaimana upaya memfitnah Gerwani tersebut. Hasil Outopsi terhadap mayat para Jenderal misalnya,ternyata secara resmi menyatakan tidak ada penyiksaan terhadap tubuh korban termasuk pemotongan anggota tubuh para korban.

Orde Baru bisa memenjarakan tubuh Umi Sarjono, tetapi tidak pikirannya.Pikiran Umi Sarjono dan para pejuang lainnya akan terus hidup dan menginspirasi perjuangan generasi berikutnya…generasi yang sadar bahwa selama ini telah dipecundangi oleh kekuasaan yang membungkam suara rakyatnya.

sumber : google.com