Kampanye 16 HAKTP wilayah Bengkulu

Kampanye 16 HAKTP wilayah Bengkulu

Kampanye 16 HAKTP Wilayah Bengkulu
Bengkulu, 25 November – 10 Desember 2011

Pada pertemuan koordinasi antar cabang yang difasilitasi KPI wilayah Bengkulu pada bulan Oktober 2011 silam disepakatilah bahwa pada moment perayaan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Kampanye 16 HAKTP) tahun 2011 ini akan mengangkat isu tentang maraknya kebijakan diskriminatif terhadap perempuan. Isu ini diambil berdasarkan fakta bahwa data dari Komnas Perempuan mencatat hingga Agustus 2011 terdapat 207 kebijakan yang diskriminatif, naik 74 persen dari tahun 2009. Dari sejumlah 207 kebijakan diskriminatif tersebut sebanyak 23 diantaranya secara langsung diskriminatif terhadap perempuan melalui pengaturan tentang cara berpakaian, pengurangan hak atas perlindungan dan kepastian hukum karena mengriminalkan perempuan atas kebijakan tentang prostitusi dan pornografi serta pengabaian hak atas perlindungan.
Sekcab Rejang Lebong,Teti Sendari mengatakan bahwa ada indikasi bahwa di daerah tertentu di Bengkulu saat ini pemerintahnya mulai mencampur adukan antara kebebasan hak berpakaian perempuan dengan nilai-nilai tertentu, misalkan dengan menghimbau pemakaian kerudung dan baju panjang bagi pelajar perempuan dan himbauan memakai rok pada pegawai perempuan. Memang hai itu belum diperdakan namun jika tidak disikapi dengan baik akan menjadi pemicu terbitnya perda yang mendiskriminasikan perempuan.
Padahal menurut SekCab Bengkulu Tengah, Susiana otonomi daerah hadir diharapkan dapat mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan, pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat serta peningkatan daya saing daerah dan sudah seharusnya para pembuat kebijakan menggunakan analisis gender di dalam merumuskan setiap kebijakan sehingga kebijakan yang dijabarkan dalam program-program yang ada dapat mewujudkan kesetaraan bagi perempuan.

Untuk itu dalam memperingati 16 HAKTP 2011 KPI Wilayah Bengkulu mengadakan beberapa rangkaian kegiatan aksi damai dengan tema “ Usulkan,Dukung dan Awasi Kebijakan-kebijakan Negara yang Adil Gender”
Tanggal 25 November -10 desember 2011
– Aksi damai treatikal dan musical yang bekerjasama dengan beberapa lembaga yang ada di Bengkulu, dilaksanakan pukul 14.30 wib di sepanjang Jalan Suprapto Kota Bengkulu.taggal 25 November
– Aksi damai membagikan stiker di Bundaran Sukowati Rejang lebong pukul 10.00 wib tanggal 25 November
– Aksi damai membagikan stiker dan brosure di jalan raya Pondok Kelapa Bengkulu Tengah pukul 10.00 wib
– Talkshow di RRI tanggal 1 Desember 2011 pukul 16.00 wib *
– Diskusi kritis terbatas tentang “ Politik HAM VS Politik Demokrasi refleksi Negeri” tanggal 10 Desember 2011 jam 10.00 wib dengan beberapa tokoh masyarakat dan perwakilan organisasi di Bengkulu.
Moment 16 HAKTP ini diharapkan dapat menjadi awal gerakan seluruh elemen masyarakat Bengkulu untuk bersama-sama untuk lebih kritis terhadap setiap kebijakan dan program di keluarkan oleh pembuat kebijakan karena Kebijakan-kebijakn diskrimninatif inilah yang memberikan peluang sebesar-besarnya terjadinya kekerasan terhadap perempuan .(irna)

Recommendation For The third Draft Outcome Document for the Fourth High-Level Forum on aid Effectiveness.

Recommendation For The third Draft Outcome Document for the Fourth High-Level Forum on aid Effectiveness.

Jakarta, 29 November 2011

Dokumen dibawah ini adalah Rekomendasi yang akan disampaikan oleh Sekjend Koalisi Perempuan Indonesia di dalam pertemuan

the Fourth High-Level Forum on Aid Effectiveness yang diselnggarakan di Busan Korea.

Recommendation for 4th Draft Busan Outcome Document -Gender Issue.

 

 

Ekspresi 1000 perempuan NTB

Ekspresi 1000 perempuan NTB

Koalisi Perempuan Indonesia
Jakarta, 28 November 2011

Dalam rangka hari Perempuan Pedesaan Internasional dan memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan , Koalisi Perempuan Indonesia wilayah Nusa Tenggara Barat melaksanakan serangkaian kegiatan yang diberi nama Temu 1000 perempuan pedesaan NTB. Kegiatan selama 3 hari yang berlangsung sejak tanggal 27 s/d 29 November ini diisi dengan kegiatan malam budaya , seminar sehari yang membahas tema Stop Kekerasan terhadap Perempuan dan “Kembalikan hak Perempuan, hearing dengan pengambil kebijakan dan juga Cidomo tour .

Kegiatan ini juga melibatkan jaringan organisasi masyarakat sipil , pemerintahan di Lombok Barat, warga desa Lelede Kecamatan Banyumulek , Lombok Barat . Kegiatan ini juga bertujuan untuk menyusun gerakan perempuan NTB melawan pemiskinan dan stop kekerasan terhadap perempuan sekaligus juga meminta komitmen dari pengambil kebijakan untuk lebih pro pada perempuan dan mendorong pengurangan angka kemiskinan perempuan di desa, demikian disampaikan oleh SEKWIL NTB Ibu Sri Sustini.

 

 

Kliping Media

Kliping Media

Saturday, November 05 2011. Posted in Category Nasional

Jangan lupa like Fan Page Facebook BerbagaiSumber.com, atau Follow@berbagaisumber di twitter 🙂

JAKARTA, (PRLM).- Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) meminta penjelasan pemerintah dan DPR terkait memburuknya peringkat indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia tahun ini. Berdasarkan Human Development Report (HDR) yang diterbitkan setiap tahun oleh United Nations Development Programme (UNDP) 2011, perkembangan Pembangunan Indonesia mengalami kemerosotan secara drastis, yaitu berada di peringkat 124 setelah setahun sebelumnya berada di peringkat 108. Sekretaris Jenderal KPI Dian Kartikasari mengatakan itu di Jakarta, Jumat (4/11).

Perubahan peringkat menjadi ke 124 ini menunjukkan bahwa pembangunan manusia di Indonesia mengalami perlambatan dibandingkan negara-negara lain. Derajat kesejahteraan masyarakat Indonesia mengalami penurunan secara drastis, hal ini ditunjukkan dari usia harapan hidup (Life expectancy at birth). HDR 2010, menunjukkan usia harapan hidup masyarakat Indonesia adalah 71,5 tahun, sedangkan HDR 2011 menunjukkan Life expectancy masyarakat Indonesia di usia 69,4 tahun.

Dian mengatakan, hal itu menjadi ironi karena Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa Pembangunan di tahun 2011 berorientasi Triple Track Strategy, yaitu pro pertumbuhan ekonomi (Pro Growth), memperluas lapangan kerja (Pro Job), dan meningkatkan Program Perlindungan kepada Masyarakat Miskin (Pro Poor).

“Alokasi Belanja Modal APBN 2011 mencapai Rp.121,9 triliun mengalami kenaikan sebesar Rp 26,9 triliun (28,3%) dibanding belanja modal di tahun 2010 yang hanya mencapai Rp.95,0 triliun,” ujarnya.

Meski Pemerintah menyatakan bahwa rasio utang terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) terus menurun, namun secara nominal jumlah Utang Pemerintah Indonesia membengkak tak terkendali. Hingga September 2011 Utang negara sudah mencapai Rp 1.754,91 triliun atau naik Rp 10,57 triliun dibanding utang pada Agustus 2011 yaitu sekitar Rp. 1,744,34.

Oleh karena itu, kata dia, Pemerintah Indonesia harus melakukan evaluasi secara komprehensif dan terkonsolidasi tentang efektifitas penggunaan dana utang dan hibah luar negeri terhadap semua program dan proyek pembangunan.

“Pertanyaannya, seberapa efektifitas utang untuk pembangunan. Jika kenyataan menunjukkan bahwa peningkatan jumlah utang berbanding terbalik dengan pembangunan menusia. Semakin meningkat jumlah utang, semakin menurun Pembangunan Manusia di Indonesia” katanya. (A-156/das)***

 

 

Dilema Kepemimpinan Perempuan Parlemen (1)

Dwi Rubiyanti Kholifah*

Kepemimpinan perempuan sering diidentikkan dengan representasi perempuan formalistik. Bahkan sebagian publik membayangkan bahwa kepemimpinan perempuan hanya sebatas perjuangan perebutan kursi parlemen untuk perempuan saja. Jika ada di antara pembaca yang masih berpikiran seperti ini, memang tidak bisa disalahkan, karena diskursus kepemimpinan perempuan awal era reformasi banyak didominasi dengan wacana representasi perempuan di parlemen sebagai affirmative action. Tulisan pendek ini ingin menyuguhkan realitas dinamika kepemimpinan perempuan di parlemen berangkat dari refleksi pengalaman para perempuan parlemen Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI di tengah-tengah kompleksitas persoalan di Indonesia. Saya sendiri tertarik mengangkat masalah ini setelah menghadiri konsultasi ahli (expert) yang digelar oleh Common Ground bersama dengan Kaukus Perempuan Parlemen Dewan Perwakilan Daerah (KPP DPD) RI pada tanggal 9 April 2011 lalu.

Pertemuan konsultasi ahli ini selain merupakan agenda silaturahmi antara KPP DPD RI dengan kelompok-kelompok perempuan seperti Jurnal Perempuan, AMAN Indonesia, Kajian Wanita UI, Rahima, KPI, Metro TV dan sebagainya, juga ditujukan sebagai forum refleksi pengalaman perempuan dewan dalam konstalasi politik maskulin di parlemen. Awalnya pembahasan forum ingin difokuskan pada urgensi media dalam mendorong kepemimpinan perempuan -sebuah topik yang berat dan melelahkan bagi bukan hanya feminis media, tetapi juga para pejuang hak-hak asasi perempuan karena harus terus bernegosiasi dengan yang namanya mediakrasi (birokrasi media).

Maria Hartiningsih, wartawan senior harian nasional Kompas yang diundang sebagai narasumber pada pertemuan tersebut menjelaskan bahwa perjuangan untuk mainstreaming gender di dalam institusi media, selalu membentur institutionalized masculinity yang dilanggengkan oleh sistem dan personal. Butuh energi besar untuk membuat media melek gender, termasuk mau menggunakan narasumber perempuan parlemen untuk mendapatkan perspektif keadilan gender.

Selain isu media yang memang masih tidak akrab dengan perjuangan keadilan gender, tenggelamnya suara pemimpin perempuan parlemen menjadi concern tersendiri untuk diperbincangkan dalam konsultasi expert ini. Misalnya persoalan penguasaan materi pembicaraan yang seringkali dijadikan alasan pekerja media kurang puas mendapatkan respon dari para wakil rakyat yang perempuan. Padahal menurut Ketua KPP DPD RI, Gusti Kanjeng Ratu Hemas, kualitas para perempuan DPD bisa diandalkan.

Menurut saya, ada dua hal yang penting diluruskan untuk meningkatkan kualitas pemimpin perempuan, yaitu redefinisi isu perempuan, karena ada tendensi penyempitan makna dan bidang terhadap isu perempuan, termasuk anggota dewan masih banyak beranggapan bahwa isu perempuan itu adalah hal-hal yang dianggap dekat dengan womenhood (dunia keperempuanan). Kedua, membicarakan kembali tentang hakikat kepemimpinan perempuan dan merumuskan strategi baru kepemimpinan perempuan untuk bertahan dalam lingkungan politik maskulin kita.

Isu perempuan?
“Banyak aktivis perempuan dari daerah dulunya vokal, tapi setelah menjadi anggota dewan tidak terdengar suaranya,” ungkap Dian Kartikasari, Sekjen Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), dalam presentasinya merefleksikan perjalanan KPI sebagai salah satu organisasi perempuan yang cukup konsisten dalam mengawal perjalanan para calon (perempuan) anggota dewan. Fenomena ini tampaknya cukup marak di antara dampingan KPI. Sebut saja Haryati, salah satu aktivis perempuan Kalimantan Barat yang berhasil mewakili daerah di tingkat pusat, mengaku merasa kesulitan untuk mengangkat isu perempuan manakala kebijakan partainya menempatkan dia di komisi dua (2) yang membahas tentang Sumber Daya Alam (SDA). Pertanyaan saya, apakah tidak ada isu perempuan di dalam konteks SDA?

Dari ilustrasi di atas saya khawatir isu perempuan muncul hanya ketika itu diilustrasikan secara tersirat atau mempunyai asosiasi kuat dengan perempuan, seperti kesehatan perempuan, pendidikan perempuan, hak cuti haid dan melahirkan, pekerja rumah tangga (PRT), buruh migran, pekerja seks komersial, dan sebagainya. Nah, karena kata perempuan menempel di sana sebagai kata keterangan, maka ini mudah sekali dideteksi dan diingat. Bahkan ketika itu dimasukkan dalam sebuah kamar khusus bernama “perempuan”, maka biasanya pembahasannya juga fokus, terarah, tajam, dan kritis. Tapi mengapa ketika harga cabe mencapai 100.000 per kilogram, para perempuan parlemen bungkam seribu bahasa.

Tampaknya persoalannya lebih kompleks daripada sekadar packaging isu. Ada dilema dalam diri perempuan ketika menyuarakan masalah cabe, yaitu takut dicap politisi cabe yang bisanya hanya ngurusin masalah cabe. Dari ungkapan ini, sangatlah jelas bahwa kemampuan analisis mikro dan makro para perempuan parlemen belum mumpuni. Jika mereka menyuarakan masalah harga cabe, dikhawatirkan posisi para politisi perempuan semakin terpojok. Karena pada keadaan normal saja, mereka belum begitu diperhitungkan.

Saya jadi ingat sebuah jargon yang sering dipakai oleh para pejuang hak-hak perempuan, The personal is political. Jargon ini pertama kali dipopulerkan oleh Carol Hanisch, seorang feminis radikal, anggota kehormatan kelompok bernama New York Radical Women dan Redstockings pada tahun 1969. The personal is political menjelaskan hubungan situasi personal yang dialami oleh seorang perempuan, ternyata ada hubungan dengan persoalan politik. Kata politik di sini mengandung makna yang lebih luas tentunya, bukan sekadar electoral politics (politik pemilu). Kata politik ini mengacu pada persoalan konstruksi power relations yang berlapis. Harga cabe memang sekilas menjadi urusan para ibu rumah tangga seperti Mpok Rohima, Muji, Sanah, dan lain-lain. Tetapi mengapa harga cabe mahal tentunya bukan hanya urusan petani tidak menanam cabe lagi. Mungkinkah para petani cabe tidak mempunyai lahan tanam lagi karena semua lahan pertanian disulap menjadi perkebunan sawit? Apakah ini ada hubungannya dengan kebijakan perdagangan yang tidak berpihak pada rakyat kecil? Apakah memang petani sudah tidak tertarik lagi menanam cabe? Apakah ini dampak dari penandatanganan free trade dengan beberapa negara, sehingga cabe lokal dihilangkan dari peredaran dan digantikan dengan cabe import? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dibuktikan dengan data-data agar tidak hanya menjadi gosip semata. Nah, tugas para perempuan parlemen adalah menghubungkan variabel-variabel jawaban, dan mengarahkan tesis para konsep ekonomi kerakyatan.

Singkat kata, isu perempuan adalah cross cutting issue yang bisa dibunyikan dari berbagai macam konteks persoalan. Karena ini sebuah perspektif, yaitu alat bedah, maka dia akan berbicara dengan konten keberpihakan yang sama, yaitu pada perempuan (re: yang dilemahkan) dalam persoalan yang berbeda-beda. Persoalan SDA khususnya pertambangan misalnya, sangat bisa dicari celahnya jika kita bisa secara sensitif melihat dampak dari pertambangan pada kesehatan reproduksi perempuan, kesehatan anak-anak, dan sebagainya. Karena di banyak kasus, pertambangan berasosiasi dengan munculnya bisnis transaksi seks, HIV/AIDS, dan gangguan reproduksi.

Seharusnya pemimpin perempuan jangan terjebak pada narasi-narasi besar laki-laki, karena akan semakin menjauhkan dan menenggelamkan suara dan kebutuhan perempuan. Para pemimpin perempuan seharusnya bisa secara konsisten mengangkat gender practice, persoalan keseharian perempuan seperti air bersih, bahan pangan, gizi anak, tabung gas meledak, kesehatan ibu dan anak, biaya sekolah anak dan masih banyak lagi dengan menghubungkannya pada persoalan global makro. Karena dalam setiap aspek kehidupan personal perempuan selalu berkaitan dengan dengan persoalan politik.

(bersambung pada tulisan 2)



* Country Representative AMAN Indonesia

 

Koalisi Perempuan Tuntut Penjelasan Menurunnya IPM Indonesia

JUM’AT, 04 NOVEMBER 2011 23:16
E-mailPrintPDF

Jakarta – LSM Koalisi Perempuan mendesak pemerintah agar menjelaskan kepada publik, terkait dengan menurunnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia, dari peringkat 108 menjadi peringkat 124.

“Pemerintah harus menjelaskan ke masyarakat tentang menurunnya peringkat Indeks Pembangunan Manusia atau Human Development Index Rank hingga di urutan ke 124,” kata Sekretaris Jenderal LSM Koalisi Perempuan Dian Kartikasari, dalam rilis yang diterima Gatranews, Jumat (04/11/2011).

Rabu lalu, United Nations Development Programme (UNDP) mengeluarkan laporan Human Development Report (HDR) dari 187 negara-negara. Dari laporan tersebut, HDR dikategorikan dalam 4 kelompok, yaitu: Very High Human Development (kelompok negara berperingkat sangat tinggi,1- 47) High Human Development (kelompok negara berperingkat pembangunan manusianya tinggi, 48- 94).

Selanjutnya, Medium Human Development (kelompok negara berperingkat pembangunan manusianya sedang, 94-141) dan Low Human Development (Kelompok negara yang peringkat pembangunan manusianya rendah, 142-187).

Menurut Dian, Indonesia masuk dalam katagori Medium Human Development. Selama 11 tahun dari 1999-2010 Indonesia selalu di peringkat 102 hingga 112. Peringkat terbaik dicapai tahun 2001 yaitu peringkat ke 102, dan di tahun 1999 di peringkat ke 105. Sedangkan peringkat terburuk terjadi di tahun 2003, yaitu peringkat ke 112.

“Yang paling mengejutkan adalah HDR 2011 Perkembangan Pembangunan Indonesia mengalami kemerosotan secara drastis, di peringkat 124. Padahal tahun 2010 berada di peringkat ke 108,” katanya menambahkan.

Koalisi Perempuan menilai, perubahan itu berarti pembangunan manusia di Indonesia mengalami perlambatan dibandingkan negara lain. Tingkat kesejahteraan masyarakat menurun drastis. Hal ini ditunjukkan dari usia harapan hidup pada 2010 adalah 71,5 tahun. Tapi tahun ini di usia 69,4 tahun.

Ini bertentangan dengan kebijakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menyatakan pembangunan 2011 ini berorientasi Triple Track Strategy, yaitu Pro Growth, Pro Job, dan Pro Poor. Dari segi APBN pun mencapai kenaikan menjadi Rp 121,9 triliun, dari sebelumnya yang hanya mencapai Rp 95,0 triliun.[AM]

Sumber : www.gatra.com

Seminar Sehari ” Membangun Komitmen dan Sinergi Bersama;  Pemerintah dan Masyarakat Sipil Untuk Pembangunan Desa yang Adil Gender

Seminar Sehari ” Membangun Komitmen dan Sinergi Bersama; Pemerintah dan Masyarakat Sipil Untuk Pembangunan Desa yang Adil Gender

Jakarta, 16 November 2011

Koalisi Perempuan Indonesia pada tanggal 15 November 2011, bertempat di Hotel Harris Jakarta, telah mengadakan seminar sehari tentang Membangun Komitmen dan Sinergi Bersama;Pemerintah dan Masyarakat Sipil Untuk Pembangunan Desa yang Adil Gender yang didukung oleh TAF Foundation dan Development & Peace sebagai upaya untuk mempertemukan antara pemerintah dan masyarakat sipil dengan anggota Parlemen untuk mengetahui sampai sejauh mana perkembangan RUU desa yang saat ini telah dibahas oleh DPR RI.

Pihak pemerintah di wakili oleh Prabawa Eka Soesanta,  Kepala Bagian Perencanaan Ditjen Pemberdayaan Masyarakat Desa Direktur Jenderal Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kementrian Dalam Negeri yang menyampaikan tentang  Kebijakan Pemerintah Pusat dalam mengintegrasikan pengarusutamaan gender untuk  program pembangunan desa yang menurutnya masih sangat netral gender khususnya kalau dihubungkan dengan RUU Desa yang sedang di bahas. Sementara itu Ibu Hj. Ganiwati. SH (Ketua Kaukus Perempuan Parlemen Propinsi Jawa Barat) menyampaikan Partisipasi Perempuan dan perumusan dan pengambilan keputusan dalam penyusunan program pembangunan desa yang lebih banyak  membahas tentang Jawa Barat secara umum. Banyaknya persoalan perempuan yang terjadi di Jawa Barat antara lain Tingginya angka yang terkena HIV AIDS dan juga trafficking, walaupun sudah ada anggaran yang dikucurkan.

Dian Kartikasari , sekjen Koalisi Perempuan Indonesia dalam sesi pertama ini juga  menyampaikan tentang Kondisi Perempuan Pedesaan selama 65 tahun terakhir. Selain itu lebih menekankan dan memastikan bahwa perspektif keadilan gender diintegrasikan dalam semua kebijakan publik, perencanaan dan alokasi anggaran pembangunan desa.

Bagaimana perkembangan RUU Desa dibahas di sessi siang yang menghadirkan Ir Nanang Samodra, KA, MSC anggota DPR RI Komisi II yang membidangi tata pemerintahan, Arie Sujito ( IRE ) dan Gunawan Wiradi ( Sosiolog) . Dalam penyampaiannya Bapak Nanang menyampaikan kondisi terakhir pembahasan RUU Desa dimana sampai saat ini masih dalam tahap pembahasan. Arie Jito menyampaikan makalah tentang Perubahan Sosial Politik dan Pembangunan Desa  yang juga menyampaikan tentang Catatan beliau selama mengadvokasi RUU Desa. Arie juga menyampaikan 4 masalah atau isu yaitu :

1.Kedudukan dan kewenangan desa
2.Tata pemerintahan desa
3.Perencanaan dan penganggaran pembangunan
4.Demokrasi desa

 

Di sesi ini juga ada Bapak Gunawan yang menyampaikan tentang Analisa Sosial, ekonomi dan Budaya masyarakat desa yang membicarakan kondisi pedesaan saat ini.

Seminar ini dihadiri oleh unsur-unsur dari pemerintah, LSM, dan juga masyarakat umum lainnya. Pembangunan saat ini masih sentralistis padahal semua sumber pangan, dan sumber lainnya ada di desa . Pembangunan Pedesaan Maju, Perempuan Desa Sejahtera.

 

“Nyanyian Serbet “

“Nyanyian Serbet “

Jakarta, 15 November 2011

Dari pagi ..hingga pagi

Aku kerja tiada henti

Aduh aduh mana tahan

Siang malamku kelelahan

Itu adalah sebagain kutipan dr sinopsis “ nyanyian serbet “ sebuah drama teater yang dipentaskan oleh PEMIKAT – KAJ sebagai salah satu sosialisasi tentang keberadaan PRT dan untuk mendesakkan disahkannya RUU Pekerja Rumah Tangga. Bertempat di Gedung Pewayangan TMII pada hari Minggu 14 November 2011 selama 1 jam penuh teater ini dipentaskan.  Pentas seni sebagai wujud kepedulian terhadap Pekerja Rumah Tangga

Peringkat indeks pembangunan manusia Indonesia merosot di peringkat 124

Peringkat indeks pembangunan manusia Indonesia merosot di peringkat 124

Pernyataan Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi

Pemerintah dan DPR harus memberikan Penjelasan Kepada Publik tentang :

MEMBURUKNYA PERINGKAT INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA INDONESIA

 

Human Development Report (HDR) yang diterbitkan setiap tahun oleh United Nations Development Programme (UNDP) merupakan laporan yang memotret dan memberikan peringkat perkembangan pembangunan negara-negara di dunia. Indonesia termasuk satu dari 187 negara-negara yang dilaporkan dalam HDR tersebut.

 

Peringkat perkembangan pembangunan manusia dalam  HDR dikatagorikan dalam 4 kelompok, yaitu:  Very High Human Development (kelompok negara berperingkat sangat tinggi ,1- 47) High Human Development (kelompok negara berperingkat pembangunan manusianya tinggi,  48- 94), Medium Human Development (kelompok negara berperingkat pembangunan manusianya sedang, 94-141) dan Low Human Development (Kelompok negara yang peringkat pembangunan manusianya rendah, 142-187).

 

Indonesia masuk dalam katagori Medium Human Development. Peringkat Indonesia dalam  HDR selama 11 tahun (1999-2010) selalu di peringkat 102 hingga 112. Peringkat terbaik dicapai di tahun 2001 yaitu peringkat ke 102, dan di tahun 1999 di peringkat ke 105. Sedangkan peringkat terburuk terjadi di tahun 2003, yaitu peringkat ke 112.

 

Namun yang paling mengejutkan adalah HDR 2011, yang menunjukkan bahwa Perkembangan Pembangunan Indonesia mengalami kemrosotan secara drastic, yaitu berada di peringkat 124. Padahal HDR 2010 menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke 108.

 

Tabel Perkembangan Peringkat Human Development Indonesia

 

Tahun

1999

00

01

02

03

04

05

06

07/08

09

10

11

Peringkat HDI Indonesia

105

109

102

110

112

111

110

106

107

111

108

124

 

Sumber: UNDP, HDR 1999-2011 diolah

 

Perubahan Peringkat menjadi ke 124 ini menunjukkan bahwa pembangunan manusia di Indonesia mengalami perlambatan dibandingkan negara-negara lain. Derajat kesejahteraan masyarakat Indonesia mengalami penurunan secara drastic, hal ini ditunjukkan dari usia harapan hidup (Life expectancy at birth). HDR 2010, menunjukkan usia harapan hidup masyarakat Indonesia adalah 71,5 tahun, sedangkan HDR 2011 menunjukkan Life expectancy masyarakat Indonesia di usia 69,4 tahun.

 

Padahal Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa Pembangunan di tahun 2011 berorientasi Triple Track Strategy : 1) Meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi (Pro Growth), 2) Memperluas Lapangan Pekerjaan Baru (Pro Job) , dan 3) Meningkatkan Program Perlindungan kepada Masyarakat Miskin (Pro Poor) . Alokasi Belanja Modal APBN 2011 mencapai Rp.121,9 triliun mengalami kenaikan sebesar Rp 26,9 triliun (28,3%) dibanding belanja modal di tahun 2010 yang hanya mencapai Rp.95,0 triliun.

 

Meski Pemerintah menyatakan bahwa rasio utang terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) terus menurun, namun secara nominal jumlah Utang Pemerintah Indonesia membengkak tak terkendali. Hingga September 2011 Utang negara sudah mencapai Rp. 1.754,91 triliun atau naik Rp 10,57 dibanding utang pada Agustus 2011 yaitu sekitar Rp. 1,744,34. Pertanyaannya, seberapakah efektifitas utang untuk pembangunan. Jika kenyataan menunjukkan bahwa peningkatan jumlah utang berbanding terbalik dengan pembangunan menusia. Semakin meningkat jumlah utang, semakin menurun Pembangunan Manusia di Indonesia.

 

Sehubungan dengan kenyataan di atas, Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi, menuntut kepada Pemerintah RI dan DPR RI :

 

  1. Pemerintah Indonesia harus memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang menurunnya Peringkat Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index Rank) hingga di ututan ke 124, padahal peningkatan pembiayaan pembangunan dari Pendapatan Asli maupun utang Luar negeri  mengalami kenaikan secara signifikan.

 

  1. DPR RI harus memberikan penjelasan kepada masyarakat dan konstituennya tentang pelaksanaan fungsi pengawasan DPR kepada Pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan, sehingga pembangunan justru memperburuk tingkat kesejahteraan masyarakat.

 

  1. Pemerintah Indonesia harus melakukan evaluasi secara komprehensif dan terkonsolidasi tentang efektifitas penggunaan dana utang dan hibah  luar negeri terhadap semua program dan proyek pembangunan.

 

  1. Pemerintah Indonesia juga perlu melakukan evaluasi efektifitas semua penggunaan dana hasil pendapatan negara selain utang untuk pembangunan. Evaluasi ini juga harus mencakup kemanfaat penyediaan dana pendamping untuk proyek dan program yang dibiayai dengan utang maupun hibah.

Koalisi Perempuan Indonesia menunggu penjelasan dari Pemerintah Indonesia dan DPR RI tentang memburuknya Peringkat Indeks Pembangunan Indonesia dalam Human Development Report 2011

 

 

Jakarta, 4 November 2011

 

 

Dian Kartikasari

Sekretaris Jenderal

 

Informasi lebih lanjut :

Dian Kartikasari (0816 759 865)

Mike Verawati Tangka (081332929509)

 

Konfrensi Pers ” Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Ekonomi “

Konfrensi Pers ” Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Ekonomi “

Jakarta, 3 November 2011

Sehari menjelang pertemuan G20 di Cannes Prancis yang akan dimulai hari ini , kelompok masyarakat sipil yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan ekonomi mengelar konfrensi Pers terkait dengan kehadiran Presiden SBY dalam Forum G20. Kelompok masyarakat sipil untuk keadilan ini menyatakan bahwa kehadiran Presiden SBY di forum ini akan sia-sia saja jika tidak mampu untuk memperjuangkan kepentingan rakyat Indonesia dan akan sia-sia saja jika menghasilkan utang baru.

Dian Kartika sari selaku sekjen Koalisi Perempuan Indonesia menyampaiakn bahwa kelompok masyarakat sipil selama ini tidak pernah dilibatkan dalam forum-forum seperti ini. Sementara Wahyu Susilo dari INFID menyatakan bahwa terjadi kemerosotan HDI Indonesia pada tahun 2010 menduduki posisi 109 dan ditahun ini merosot menjadi posisi 124 dan angka harapan hidup Indonesia 69 tahun masih kalah dengan negara Palestina .

Selain itu ada Nurharsono ( migrant Care ), Ibu Missi ( Kapal Perempuan) dan Syamsul ( Yakkum ) yang menyampaikan kondisi terkait migrant, pendidikan perempuan .