Menjelang Hari perempuan pedesaan internasional

Menjelang Hari perempuan pedesaan internasional

Jakarta, 13 Oktober 2011
Negara Republik Indonesia dimata dunia akrab dengan istilah “Negara Berkembang”, secara logika umum dapat diartikan sebagai negara yang sedang dalam proses Pembangunan. Tetapi Pembangunan yang sudah berjalan di Indonesia apakah telah sejalan dengan pengertian Pembangunan yang setara dan memenuhi kebutuhan seluruh hajat hidup masyarakat di semua wilayah seperti mandat konstitusi Negara Indonesia yaitu UUD 1945.

Indonesia terdiri dari 33 Propinsi termasuk diantaranya 404 Kabupaten, 98 Kota (502 Kab/kota), 6.542 Kecamatan, 8.072 (12%) Kelurahan dan 67.172 Desa (88%), sehingga dapat disimpulkan bahwa jumlah terbesar penduduk di Indonesia ada di wilayah desa. Sementara kondisi masyarakat di pedesaan sampai dengan hari ini belum menampakkan kesejahteraan sebagai bagian dari hasil pembangunan, khususnya kondisi perempuan dan anak di pedesaan, karena berdasarkan angka SUSENAS hampir 70% perempuan tinggal di area pedesaan.

Berkenaan dengan fakta tersebut dan bertepatan dengan moment Peringatan Hari Perempuan Pedesaan Internasional yang jatuh pada tanggal 15 Oktober mendatang, Koalisi Perempuan Indonesia Untuk Keadilan dan Demokrasi mengundang rekan-rekan media untuk menghadiri dan meliput Konferensi Pers dan juga berbincang tentang kondisi perempuan pedesaan saat ini yang akan dilaksanakan di Bakoel Koffie pada tanggal 14 Oktober 2011 ( Jum’at ) jam 10.00 WIB s/d 12.00 Wib .

Peluncuran Buku Seri Demokrasi Elektoral

Peluncuran Buku Seri Demokrasi Elektoral

Jakarta, 12 Oktober 2011

Peluncuran buku seri demokrasi elektoral oleh Kemitraan dilaksanakan di Hotel Atlet Century kemarin (11 Okrober 2011) diikuti oleh berbagai individu, NGO, pemerintah dan sebagian jurnalis. Buku yang dibuat sebagai bahan materi advokasi perubahan pemilu ini terdiri dari 13 judul,salah satu bukunya berjudul  meningkatkan keterwakilan perempuan. Peluncuran ditandai dengan penyerahan buku secara simbolis kepada wakil pemerintah, DPR, NGO dan individu.

Peluncuran buku yang dirangkai dengan diskusi tentang ” menciptakan Pemilu yang berkualitas dan berintegritas; Menuju Pelembagaan Demokrasi elektoral di Indonesia ” menghadirkan 3 pembicara yaitu Prof Ramlan Surbakti, Arwani Thomafi ( Wakil Pansus RUU Pemilu) dan kementrian Depdagri dan dipandu oleh Didik Supriyanto.

 

 

 

Konser ” Franky Sahilatua untuk Indonesia “

Konser ” Franky Sahilatua untuk Indonesia “

Jakarta, 10 Oktober 2011

“Franky untuk Indonesia ” judul yang diberikan oleh kawan-kawan dan keluarga besar Franky Sahilatua dalam pergelaran musik yang diadakan pada tanggal 7 Okrober 2011 lalu. Siapa yang tak kenal dengan lagu-lagu kritis beliau yang selalu menyuarakan suara rakyat kecil seperti ” anak pinggiran”, “perahu retak ” dan karya yang paling sering terdengar akhir-akhir ini adalah ” Pancasila Rumah Kita “.

Tak terasa 3 jam menikmati lagu-lagu karya Franky yang dinyanyikan oleh sahabat-sahabatnya seperti Tri Utami yang membawakan lagu “Kemarin”,  kolaborasi antara Edo kondolongit & Glend Fredly , dan penampilan Sri Sultan Hamengkubuwono X membacakan puisi ” Tamansari Indonesia” .

Berbicara tentang pluralisme , kebangsaan , keindonesiaan, persatuan melalui lagu-lagu Franky lebih bersahabat dan santai . Sampai pertunjukan berakhir penonton tak mau beranjak jua.

Franky pejuang kemanusiaan berkarya melalui lagu. Selamat jalan karya dan lagu-lagumu akan selalu mengumandang di negeri ini . Negeri yang masih membutuhkan sosok -sosok sepertimu dan  Gus Dur.

 

Satellite Meeting: Remaja dan Akses Kesehatan Reproduksi yang Non-Diskriminatif

Satellite Meeting: Remaja dan Akses Kesehatan Reproduksi yang Non-Diskriminatif

Rabu sore, 5 Oktober 2011 masih dalam rangkaian Pertemuan Nasional HIV AIDS ke IV (Pernas AIDS) di Yogyakarta, digelar pertemuan satellite kolaborasi forum perempuan dan forum remaja yang spesifik mengulas isu remaja dan HIV AIDS. Tema yang diusung adalah Remaja dan Akses Kesehatan Reproduksi yang Non-Diskriminatif. Dalam Kesempatan ini juga hadir Maria Listihayu Prajna Prastita (Emma) dari Koalisi Perempuan Indonesia Wilayah DIY, dan rekan-rekan remaja lainnya dari Aliansi Remaja Independen (ARI), Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) dan Gaya Warna Lentera (GWL-INA)

Insipirasi yang mengemuka dalam pertemuan sore ini, adalah mengajak audiens untuk maju selangkah dalam melihat permasalahan remaja di Indonesia, apalagi ketika melihat persoalan yang cenderung dilekatkan pada remaja, seperti seks bebas, napza, dan biang rusuh. Sementara realitas lain yang terjadi pada remaja justru tidak dipotret dengan serius, seperti perdagangan remaja untuk prostitusi dan pekerja yang buruk dan eksploitatif terhadap remaja, drop out, pernikahan dini dan lainnya yang pada akhirnya menuntut pemerintah, masyarakat merubah cara pandang dalam melihat permasalahan remaja. Secara khusus lagi adalah remaja perempuan yang masih juga berkubang dalam budaya patriarkhi sehingga persoalan remaja perempuan pun menjadi jauh lebih kompleks dan berada dalam siklus kekerasan yang berlapis.

Dan akhirnya pertemuan satellite ini ingin merangkul semua pihak untuk juga memberikan ruang, akses bagi remaja untuk mencari solusi terbaik khususnya dikaitkan dengan bagaimana remaja dapat mengakses hak informasi dan layanan kesehatan reproduksi yang baik, tentunya juga dengan implementasi yang lebih adil gender.(Mk)

Liputan Konfrensi Pers

Liputan Konfrensi Pers

DISESALKAN PT FREEPORT SPONSOR PERNAS AIDS IV
Rabu, 05 Oktober 2011

JUBI – Koordinator Kelompok Kerja (Pokja) Reformasi Kebijakan Sekretariat Nasional Koallisi Perempuan Indonesia, Mike menyesalkan Komisi Penanggulangan Aids Nasional (KPAN) ‘menggandeng’ PT. Freport Indonesia dan Exxon Mobile sebagai sponsorship di ajang Pertemuan Nasional (Pernas) AIDS IV yang berlangsung di Jogjakarta, 3-6 Oktober 2011.

Hal itu ditegaskannya bersama Koordinator Nasional Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) Beby Rivona dalam jumpa pers, Senin, (3/10) di Jogjakarta. Baik Beby Rivona dan Mike yang tergabung dalam forum komunitas perempuan, memberi masukan penting untuk KPAN selaku penyelenggara untuk lebih selektif melakukan kerjasama dengan pihak lain seperti tidak melibatkan pihak sponsor yang melanggar HAM dan merusak lingkungan diantaranya PT. Freeport dan Exxon Mobile.

Mereka berharap kedepannya program HIV bisa sejalan dengan gerakan-gerakan lainnya, sehingga dapat dukungan dari kelompok-kelompok pendukung dari perusahaan yang tidak melanggar HAM dan Lingkungan.

Persoalannya, tegas Mike, bahwa yang mereka tau penyelenggaraan Pernas AIDS IV, hanya didanai oleh Global Found melalui APBN. Namun menjadi tidak jelas ketika diketahui bahwa Pernas AIDS IV disponsori juga oleh PT Freeport dan Exxon Mobile. Secara rinci Mike mengakui bahwa tidak tercantum nama dua perusahaan tersebut di spanduk dan back drop maupu baliho-baliho, namun dalam beberapa temuan mereka di baliho tertentu, dua perusahaan tersebut, dipapangkan sebagai sponsorship Pernas AIDS IV.

“Freeport di Papua punya andil besar, karena kita tau di jalur-jalur arah ke Freeport ada prostitusi gelap yang berdampak terhadap prevalensi HIV,” ungkap Mike mencontohkan.

Baik Mike maupun Beby Rivona berharap Pernas berikutnya tidak lagi melibatkan perusahaan yang melanggar HAM dan Lingkungan. Itu sebabnya keduanya menyesalkan keterlibatan PT. Freeport dan Exxon Mobile dalam sponsorship di ajang dua tahunan itu.

“Kita tau bagaimana persoalan lingkungan di Indonesia. Freeport salah satu yang tidak bertanggungjawab,” tambah Mike.

Anggota IPPI Papua, Yuliana Yerisetouw secara terpisah mendukung apa yang diungkapkan oleh Mike dan Beby Rivona. Alasannya bahwa sebagai seorang perempuan, PT Freeport misalnya tidak pernah habis-habisnya diperbincangkan dalam masalah HAM dan Lingkungan. Menurut Mama Yuli, panggilan akrabnya, bahwa Freeport lebih banyak merusak ketimbang memperbaiki lingkungan dan juga melanggar masalah HAM di Papua.
(JUBI/ROBERTH WANGGAI- ngutip : tabloid jubi)

sumber : www.komisikepolisianindonesia.com

Membangun Sinergi Bersama Gerakan Sosial  Untuk Penghapusan Diskriminasi Terhadap Perempuan dan Anak Dengan HIV AIDS

Membangun Sinergi Bersama Gerakan Sosial Untuk Penghapusan Diskriminasi Terhadap Perempuan dan Anak Dengan HIV AIDS

Pers Release
Koalisi Perempuan Indonesia Untuk Keadilan dan Demokrasi
Membangun Sinergi Bersama Gerakan Sosial
Untuk Penghapusan Diskriminasi Terhadap Perempuan dan Anak Dengan HIV AIDS

Koalisi Perempuan Indonesia menyambut baik Penyelenggaraan Pertemuan Nasional (Pernas) AIDS ke IV yang diselenggarakan di DI Jogjakarta pada 3 – 6 Oktober 2011. Pernas yang dibuka oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono dan dihadiri oleh Menteri Kesehatan Endang Sedyaningsih serta seluruh Kepala Daerah Bupati / Walikota seluruh Indonesia, merupakan upaya konsolidasi dalam jajaran pemerintah, pertanda kesungguhan pemerintah maupun Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) dalam penanggulangan HIV/AIDS.
Selain Konsolidasi dalam jajaran pemerintah, Pernas HIV/AIDS ke IV ini juga memfasilitasi terbangunnya konsolidasi antar masyarakat sipil pelaku penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS, untuk menyelenggarakan pertemuan dalam bentuk forum komunitas, pada 1-2 Oktober 2011. Forum komunitas seperti : forum perempuan, forum gay waria transgender, remaja, buruh migran dan perempuan yang dilacurkan serta pengguna napza, berlangsung efektif dengan melahirkan beberapa rekomendasi sebagai upaya untuk memperbaiki kualitas hidup orang dengan HIV/AIDS di Indonesia.
Upaya memfasilitasi masyarakat sipil menyelenggarakan forum-forum komunitas tersebut merupakan bentuk pengakuan pemerintah dan KPAN bahwa masyarakat sipil sebagai aktor pembangunan memiliki peran penting dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS.

Namun Koalisi Perempuan Indonesia menyayangkan pernyataan oleh Bpk Agung Laksono dalam pembukaan Pernas AIDS, yang masih memandang persoalan epidemik HIV AIDS bersumber dari perilaku seksual yang beresiko, semata. Faktanya, peningkatan jumlah perempuan terpapar HIV AIDS saat ini jusru pada kelompok ibu rumah tangga dan kelompok perempuan buruh migran. Hal ini terjadi karena rendahnya rendahnya akses informasi bagi kedua kelompok tersebut. Perempuan Ibu rumah tangga menjadi kelompok paling rentan terpapar HIV/AIDS, karena ketiadaan pengetahuan, rendahnya posisi tawar dan ketergantungan ekonomi terhadap pasangannya, serta adanya nilai budaya dan tafsir agama yang merintangi seorang isteri mendialogkan persoalan kesehatan reproduksi dan seksual dengan suaminya.
Kondisi perempuan yang terpapar HIV/AIDS semakin terpuruk akibat pelabelan negatif/stereotyping terhadap dirinya sebagai “bukan perempuan baik-baik” di masyarakat. Berbagai bentuk tindak kekerasan dalam rumah tangga juga dialami oleh perempuan terpapar HIV/AIDS dari keluarga dan pasangannya, seperti kekerasan fisik, kekerasan ekonomi, kekerasan seksual maupun kekerasan psikologis. Diskriminasi dan kekerasan juga dilakukan petugas layanan kesehatan dalam bentuk penolakan memberikan layanan atau layanan yang diskriminatif, hingga sterilisasi dan aborsi paksa.
Anak-anak yang terpapar HIV/AIDS mengalami sejumlah tindakan diskriminatif, seperti pengucilan dan pelabelan negatif, hingga penolakan bersekolah disuatu tempat.

Koalisi Perempuan Indonesia memandang positif atas terselenggaranya Pertemuan Nasional HIV/AIDS ke IV ini sebagai ruang untuk melakukan perbaikan atas kondisi buruk yang selama ini dialami oleh orang dengan HIV/AIDS , khususnya perempuan dan anak.

Namun Koalisi Perempuan Indonesia sangat menyayangkan atas kurang transparannya pihak Komisi Penanggulangan Aids Nasional (KPAN) dalam menginformasikan program kegiatan dan sumber-sumber pendanaannya. KPAN tidak menginformasikan sejak awal bahwa penyelengaraan Pernas AIDS IV ini akan melibatkan perusahaan industri ekstraktif yang selama ini dikatagorikan sebagai perusak lingkungan, untuk mendukung pendanaan.

Atas dasar kondisi diatas, Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi menyatakan sikap, mendukung rekomendasi yang dihasilkan dalam forum perempuan pernas AIDS ke IV sebagai berikut :

1. Pemerintah harus menjamin dan memperluas cakupan ketersediaan akses layanan yang komprehensif meliputi; obat-obatan, konseling psikologi dan sosial, informasi, petugas kesehatan yang memiliki ketrampilan l dalam merespon penanganan HIV AIDS, kesehatan reproduksi dan seksual yang berperspektif keadilan gender dan HAM
2. Menolak sterilisasi dan aborsi paksa kepada perempuan dengan HIV AIDS, dan mendesak kepada pemerintah untuk menindak tegas petugas kesehatan yang melakukan sterilisasi dan aborsi paksa.
3. Pemerintah segera mengimplementasikan pendidikan inklusif yang mengintegrasikan pendidikan seksualitas dan HIV AIDS ke dalam pendidikan dasar.
4. Mendesak pemerintah untuk segera bersinergi dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat agar berkomitmen kuat untuk mengupayakan penanggulangan HIV AIDS yang menghargai pluralisme dan gender.
5. Harmonisasi seluruh kebijakan yang dapat melindungi perempuan khususnya perempuan dan anak dengan HIV AIDS, dengan menindak tegas dan memproses hukum pelaku kekerasan secara transparan dan sejalan dengan konstitusi.
6. Pemerintah menjamin terbentuknya crisis center untuk perempuan dan anak dengan HIV AIDS yang dilengkapi dengan layanan terpadu sampai tingkat PUSKESMAS.
7. Mengamandemen UU Perkawinan, UU PKDRT, KUHP, KUHAP yang memastikan kasus KDRT menjadi delik aduan publik, sehingga masyarakat mempunyai fungsi kontrol terhadap kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga.
8. Membuka ruang partisipasi seluas-luasnya bagi perempuan dalam penyusunan kebijakan dan anggaran penanggulangan HIV AIDS, terlepas dari kondisi perempuan dengan HIV AIDS atau tidak.
9. Pemerintah wajib membekali aparat hukum dengan Pendidikan HIV AIDS, gender dan seksualitas secara komprehensif.
10. Menguatkan kelompok-kelompok perempuan dan HIV AIDS untuk bersinergi dengan gerakan sosial lainnya dalam mengupayakan kualitas hidup yang lebih baik bagi perempuan dan keluarganya.

Demikian siaran pers ini kami sampaikan untuk dapat dijadikan masukan yang konstruktif demi kehidupan perempuan dan anak yang sehat dan berkualitas.

Jakarta, 4 Oktober 2011
Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi

Dian Kartikasari
Sekretaris Jendral

Capacity Building Workshop for Women’s Policy of Cambodia and Indonesia

Capacity Building Workshop for Women’s Policy of Cambodia and Indonesia

Koalisi Perempuan Indonesia  bersama beberapa partai politik dan organisasi non pemerintah lainnya berkesempatan mengikuti Capacity Building Workshop for Women’s Policy of Cambodia and Indonesia yang diadakan oleh Korean Women’s Development Institute pada 19 – 30 September 2011 di Seoul, Korea Selatan. Sesuai dengan judulnya, Workshop ini juga dihadiri oleh peserta dari Cambodia.  Tujuan utama dari workshop ini adalah dalam rangka pengembangan modul untuk perumusan kebijakan terkait dengan kepentingan perempuan. Dari workshop ini jug diharapkan dapat meningkatkan kapasitas peserta dalam hal pembuatan kebijakan; meningkatkan pemahaman peserta terkait kesetraan gender; membangun jejaring kerja dalam pengmbangan kebijakan untuk perempuan.

Korean Women’s Development Institute (KWDI) merupakan lembaga think tank pemerintah untuk kebijakan kesetaraan gender di Korea Selatan. Sejak didirikan pada 1983, KWDI telah melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan agenda masyarakat yang adil gender melalui kebijakan pemerintah.

 

Konfrensi Cabang Sumbawa Besar & Pendidikan Kader Dasar

Konfrensi Cabang Sumbawa Besar & Pendidikan Kader Dasar

Sumbawa besar adalah salah satu kabupaten yang ada di Nusa Tenggara Barat yang pada tanggal 19 Agustus 2011 menyelenggarakan konfrensi cabang yang pertama. Bertempat di gedung Aula Universitas Samawa konfrensi cabang Sumbawa Besar diawali dengan seminar untuk memperkenalkan Organisasi Koalisi Perempuan Indonesia. Konfrensi cabang pertama ini dihadiri oleh sekiatr 100 anggota yang berasal dari Balai Perempuan yang ada di Sumbawa Besar .

Setelah melalui Proses persidangan dan diskusi dalam konfercab maka terpilih kepengurusan cabang Sumbawa Besar periode 2011 – 2014 yang memilih Yusraneti sebagai Sekretaris Cabang dan 9 Dewan kelompok Kepentingan yang terdiri dari Elly Karmely ( Buruh Migran), Sovia Noviantry Rayes ( Profesional ), Fitri Andriani ( Pemuda, pelajar dan mahasiswa ), Yuli Indra Dewi ( Ibu Rumah Tangga ), Buniara ( perempuan miskin kota), Mastari ( lansia )Fitri Nuryasari ( Masyarakat adat ), Wardatul jannah (Miskin desa ) dan Nuraini ( pesisir dan nelayan ), pada saat itu juga langsung dilakukan pelantikan oleh pengurus wilayah NTB.

Sebagai langkah awal untuk membentuk kader yang militan pada tanggal 25 September 2011 di selenggarakan pendidikan kader dasar berlangsung di Gedung Olah raga Mampis Runggan Sumbawa Besar.  Pendidikan diikuti oleh 30 anggota yang berasal dari 3 balai Perempuan dan difasilitasi oleh Dian Aryani salah satu Presidium wilayah NTB.

 

Berinternet yang Sehat

Berinternet yang Sehat

Sekarang ini hampir sudah mengetahui apa itu internet dan bagi orang yang awam internet pasti yang dia tahu tentang internet itu facebook,mengapa ian katakanbegitu karena kebanyakan orang mengenal internet melalui situs jejaring social yang kita kenal sekarang ini facebook dan
friendster,Bagi teman teman ian yang umurnya dibawah ian pasti baru mengenal internet melalui facebook dan bagi teman ian yang umurnya di atas ian pasti baru mengenal internet melalui friendster.

Jikalau sedang berinternet ria kita harus tahu tips berinternet yang baik karena jika tidak menggunakan tips berinternet yang baik maka akan membuat masalah dalam diri kita yaitu :
1. Kesehatan Psikologis
2. Kesehatan Fisik
3. Kesehatan Sosial
4. Kesehatan Lingkungan Alam
5. Kesehatan Duit
6. Kesehatan Pendidikan

Itu menurut ian loh kalau ada yang kurang setuju tidak mengapa,tetapi kalau ian lihat memang itu terjadi kalau kita tidak menggunakan tips berinternet yang baik,Setelah ian beritahu masalahnya sekarang ian beritahu cara supaya tidak bermasalah seperti point yang diatas.
Tips Berinternet yang baik

1. Tetapkan waktu berinternet sobat karena jangan sampai karena berinternet kita lupa solat dan mengerjakan tugas yang lebih penting.. Saran ian : Tetapkan jadwal berinternet sekitar jam 3 sore karena kebanyakan anak sekolah pulang siang jam 2 dan gunakan 1 jam itu buat solat,makan dll setelah itu berinternet

2. Jika ingin berinternet buatlah niat untuk ngapain sobat berinternet apakah untuk bermain game online,facebookan,cari tugas atau ngeblog karena jika tidak ada tujuan malah akan membuang waktu berharga sobat dan malah kalu tidak ada tujuan ujung ujungnya buka situs porno

3. Kadangkala kalau sudah hobby berinternet ria suka lupa sama teman teman kita maka dari itu
sempatkan waktu kita untuk bermain bola jam setengah lima atau ngumpul ngumpul bersama teman kita dan jika pada hari libur ajaklah ke warnet teman teman anda lalu mainlah bersama game online.

4. Gunakan software yang dapat mempercepat kinerja browser kita seperti speedy fox dan ccleaner karena jika browser lemot tidak membuang waktu dan duit sobat.

5. Pada saat berinternet ria usahakan jangan lupa membuka situs seperti detik.com okezone.com kaskus.us supaya pada saat berinternet ria juga dapat belajar dan mencari informasi dan usahakan bahwa internet malahan membuat kita pintar dan berwawasan..

6. Usahakan jangan terlalu lama bermain internet karena akan membuat kesehatan kita terganggu…Saran ian : Main setidaknya 3 jam saja jangan lebih dari 3 jam kalau ingin bermain lagi usahakan istirahat dulu

7. Hentikan melihat ke layar monitor, dan mulai menatap objek yang jauh untuk beberapa saat, hal ini perlu dilakukan untuk mencegah stress pada otot lensa mata anda karena terus menerus dipaksa berkontraksi pada kondisi yang sama terus menerus, lakukan hal ini dalam interval yang tetap dan jangka waktu yang kira-kira bersamaan

8. Kalau sobat senang dan hobby download jangan lupa gunakan software yang dapat mempercepat proses download seperti internet download manager,dengan ini kita jadi bisa menghemat waktu Dan jadi tidak berlama lama berinternet.

sumber: http://septian-gusonela.blogspot.com/2010/02/tips-berinternet-yang-baik.html